Jumat, 11 November 2011

Efesus 5:15-21 – Baca Gali Alkitab

Efesus 5:15-21

5:15 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup,
                              janganlah seperti orang bebal,
                                      tetapi seperti orang arif,
             5:16 dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.
   5:17 Sebab itu janganlah kamu bodoh,
                                      tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.
            5:18 Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu,
                                      tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,
           5:19 dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur,
                                                                                                   kidung puji-pujian
                                                                                             dan nyanyian rohani.
                         Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.
                 5:20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita
                         Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita
           5:21 dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus

Apa yang kubaca?
Pertama, mari kita lihat bahwa bagian yang kita baca ini merupakan bagian  terintegrasi  dari keseluruhan pasal dalam kitab Efesus. Namun secara proporsional konteks terdekat dari apa yang itu terhubung dari pasal 4:17-6:9. Paulus  menggunakan kata “sebab itu” ataupun “Karena itu” menjelaskan kaitannya.
 Ketika Paulus menyebutkan tentang manusia baru pada pasal 4:17-24 sebenarnya Paulus masih dalam  hubungan tematis kitab Efesus, yaitu tentang kasih, kesatuan  dan sikap yang diperlukan untuk menjalin kasih dan kesatuan tersebut. Ketika memasuki pasal 4:17 sebenarnya Paulus lebih menunjukkan ke hal yang bersifat  personal, menajam, sehingga ia mengatakan. “Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu….” ay. 17.
Mulai ayat 17 sampai ayat 24, Paulus menekankan menjadi manusia baru adalah mereka yang berhenti  hidup seperti orang –orang yang tidak mengenal Allah, menanggalkan manusia lama, diberbaharui dan mengenakan manusia baru. Baru pada ayat 25 sampai pada pasal 5:2 Paulus menyatakan lebih jauh tentang apa itu manusia baru, yaitu mereka yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sessungguhnya. Implementasinya kebenaran ada pada ayat 25-32, dasarnya adalah kasih pasal 5:1-3. Lalu mulai pasal 5:3 Paulus mengemukakan implementasi kekudusan yang dikontraskan dengan kecemaran, keserakahan dan penyembahan berhala. Paulus mengungkapkan ini bukan berarti mereka sedang terllibat dalam hal ini namun titin berat Paulus ada pada pengaruh lingkungan sehingga Paulus menutup dengan berkata, “Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka” 5:6.
Paulus tidak berhenti samapai disitu saja, Paulus menggunakan frasa yang dia gunakan pada pasal 2:1 “Kamu dahulu sudah mati…”; 2:11”dahulu kamu, sebagai orang-orang bukan Yahudi…”, kemudian pada konteks bacaan kita 5:8 “Memang dahulu kamu adalah kegelapan…”. Paulus mengkontraskan kehidupan yang dahulu dalam kegelapan dengan kehidupan orang-orang kudus yang hidup sebagai anak-anak terang, ay. 8-14 dengan menutup dengan kata “Itulah sebabnya dikatakan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur  dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu” ay. 14.
 Bacaan kita hari ini merupakan penekanan  Paulus kembali kekontrasan hidup manusia lama yang berdusta dan tidak benar dengan kebenaran yang di dasarkan kasih, kekudusan dengan kecemaran, kegelapan dengan terang dengan kalimat, “karena itu” untuk direfleksikan kembali. Itu sebabnya kalimat selanjutnya Paulus menyatakan “perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup…”.
Jika Paulus sudah menegaskan hidup jemaat Efesus harus diperbaharui maka setiap kekontrasan dari hidup manusia yang lama dengan hidup manusia yang baru itu perlu diperhatikan, lagi kata Paulus ‘janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif” ay. 15

Apa Pesan Allah padaku?
Hiduplah Bijaksana – Perhatikan Hidupmu
5:15 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif
Paulus memberi perintah untuk  terus (berkelanjutan) memperhatikan, mengarahkan pikiran , mempertimbangkan, mengambil pelajaran  dengan tepat, secara akurat terhadap keadaan hidup. Hidup yang dimaksud adalah hidup yang bijaksana.
Hidup sebagai orang yang bijaksana[1] dalam konteks sebelumnya memperlihatkan kehidupan yang bukan sekedar mengalami pertobatan melainkan juga hidup yang mengalami pembaharuan. Kebijak-sanaan timbul karena sesorang telah berada dalam Kristus (mengenal Kristus, mendengar  tentang dia dan menerima, ay, 21 bdk. psl. 1:13), menanggalkan manusia lama, dan dperbaharui di dalam roh dan pikiran.  Tanpa keseluruhan apa  yang dinyatakan oleh Firman-Nya maka kebijaksanaan itu tidak memiliki dasar yang kokoh, kitapun menjadi bodoh. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat menjadi bijaksana ataupun arif tanpa Firman Tuhan. (Pembahasan yang berkaitan dengan hikmat dan kebijaksaaan pun kitab Amsal menyajikannya dengan sangat mendalam).
Apakah tujuan kita membaca blog ini kalau kita tidak memperhatikan Firman Tuhan dengan seksama. Ngapain kita baca Firman Tuhan tanpa mengkaitkannya dengan konteksnya. Ngapain kita baca buku renungan, buku rohani, tafsiran, ikut seminar  tanpa memperhatikan dengan seksama Firman-Nya dari mulai membaca, merenungkan sampai melakukan Firman-Nya.  Hidup bijaksana Perjanjian Lama punya konsep kebijaksanaan dalam hidup yang merenungkan Firman Tuhan siang dan malam, apakah kita memiliki konsep  tersebut?  Apakah kita aplikasikan?
Menjadi bijaksana diawali dengan memperhatikan hidup kita dengan apa yang Tuhan nyatakan melalui Firman-Nya. Berhati-hatilah agar kita tidak menjadi bebal karena kita mendengarkan Firman Tuhan hanya dari orang lain dan orang tersebut adalah satu-satunya orang yang paling kita dengarkan, pengajaran tertentu, doktrin gereja tertentu, yang akhirnya tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan kita pribadi di hadapan Tuhan. Mari para hamba Tuhan, pengajar sekolah Alkitab, guru agama, rohaniawan Kristen, majelis gereja, jangan biarkan jemaat tidak celik Alkitab dengan tidak melakukan pendekatan pribadi jemaat dengan Firman Tuhan melalui Saat Teduh mereka. Jangan jadi Kekristenan dan Alkitab produk jualan.  Memperhatikan hidup kita dengan Firman Tuhan membutuhkan waktu seumur hidup.
Paulus menyatakan, “Bagaimana kamu hidup?” Bukan bagaimana kamu sembuh atau bagaimana imanmu, sudah sampai level mana, bukan gelarmu,  dari STT, master teologi, doktor teologi sekalipun. Kalau kita mau kembali ke teks sebelumnya,  maka pertanyaan ini bisa menjadi, bagaimana kamu hidup, jadi terang atau tidak?
Ketika hubungan kita tidak takut akan Tuhan maka kita tidak ada bednya dengan orang yang tidak mengenal Tuhan, 4:17.

Pergunakanlah Waktu – Perhatikan Waktumu
5:16 dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat
Kata “pergunakanlah” dan “waktu” merujuk pada tindakan menebus waktu yang ada. Hal ini berarti kita melakukan tindakan di mana saja, dan tidak membiarkan saat yang tepat lewat , tidak diperhatikan, selain menjadikan waktu itu sebagai kesempatan yang ada [2] karena hari-hari ini adalah jahat, ay. 16. Hari-hari yang melanda dengan masalah ataupun penganiayaan.
Waktu bagi kita berlalu cepat, tapi sadarkah kita perubahan apa yang sudah terjadi kita lakukan, dan perubahan apakah yang Tuhan sudah kerjakan melalui diri kita? Perubahan waktu itu sangan cepat dan jahat karena  kita dapat hidup di zaman yang cepat berubah namun tanpa perubahan apapun dalam hidup kita. Sampai-Sampai kita menganggap manusia baru dapat kita raih sementara kita tidak menanggalkan manusia lama, ay. 4:22.
Berusaha mengerti kehendak Tuhan – Perhatikan Kehendak Tuhan
5:17 Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan
Konteks tentang kehendak Tuhan diungkapkan Paulus sebelumnya dalam pasal 4:24, yaitu di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Sekali lagi, hidup persekutuan (ay. 18) dan belajar Firman (ay. 20-21) merupakan rangkaian yang menjadi tanggungjawab yang harus kita usahakan.
Orang percaya bahwa tidak membaca adalah bagian dari kebodohan, namun bagi orang yang buta tidak mendengar adalah kebodohan. Jadi apakah kita buta, tuli, tidak dapat bicara menentukan segalanya? TIDAK!! Bukankah ada yang mendengar tetapi tidak mendengar dan yang melihat tidak melihat? Kebodohan terjadi ketika kita lagi-lagi menggunakan pikiran yang sia-sia, kedegilan hati, dan perasaan yang tumpul. kita telah kehilangan “sense of God”. Karena itu dinyatakan Paulus bahwa orang yang di dalam Kristus “telah diciptakan menurut kehendak Allah didalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” ay. 24.
Berusaha mengerti kehendak Tuhan menurut konteks Efesus berbicara tentang kebenaran di dalam kasih (2:25-3:1-2. Terutama 4:15,24). Ketika kita berbicara tentang kebenaran jangan tinggalkan kasih. Masih adakah “aturn main” dalam On air atau siaran Live rohani dengan memblokir sms dan penelpon karena hanya untuk kepentingan narasumber , “kebenaran” narasumber  atau pembicara ditonjolkan kemudian melupakan kasih. Kalau narasumber, pembicara, tokoh agama pilih-pilih sms dan penelpon maka itu bukan kasih. Apalagi radio dan TV adalah media publik. Dimana kebenaran dan dimana kasih-Nya? Apakah ada orang yang mau berusaha mengerti kehendak Tuhan tapi tidak mau dikoreksi?
Berusaha mengerti kehendak Tuhan menurut konteks Efesus berbicara tentang kesatuan (2:15). Dimana pertama kalinya Paulus menyebut kata “manusia baru” dengan kalimat “…untuk menciptakan keduanya (konteks orang non-Yahudi dan Yahudi) menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera” ay. 2:15. Kita heran sekarang makin banyak denominasi gereja dan gedung gereja didirikan hanya untuk menetapkan batas-batas jangkauan pelayanan, entah disebabkan faktor financial jadinya di Kelapa Gading orang cenderung buka pelayanan gerejanya sampai daerah Menteng agar menjangkau orang-orang kaya. Kalau kita luaskan pasal 2:11-12 maka kita melihat bagaimana orang Yahudi di masa lalu dan kita juga dimasa kini melakukan fit and proper test, yaitu berdasarkan kelahiran dan aturan-hukum sunat lahiriah. Intinya dari jemaat sampai menjadi pendeta semuanya tampak nyata hanya dari yang lahiriah. Dari tanda baptis anak sampai baptis ulang, dari jemaat awal, senior, jemaat yang edukasinya tinggi, penyandang dana gereja, gelar hamba Tuhan, doktrin gereja  menjadi ukuran kehendak Tuhan. Sampai-sampai orang suka kutip ayat-ayat dari kitab Efesus lalu berbicara tentang karunia-karunia dan pertumbuhan jemaat padahal konteks semua itu adalah Pemberian Kristus, “Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus”, 4:7. Jadi legalitas apa yang membuat saya jadi narasumber,menulis blog ini, kita jadi orang Kristen, jadi guru agama, pendeta, hamba Tuhan? Kalau kita bermain legalitas maka kita sebagai umat Kristen di seluruh dunia tidak pernah bersatu dan kita tidak pernah menjangkau jiwa-jiwa karena kita sibuk dengan gereja dan program masing-masing.
Hidup yang dipenuhi dengan Roh ay. 18-21 - Perhatikan Siapa yang mengontrol Hidup Kita
5:18 Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh. 5:19 dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati 5:20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita 5:21 dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus
Paulus mengungkapkan bagian Kita bisa berjalan (hidup) dengan bijak dengan membiarkan Roh Kudus mengontrol hidup kita. Ketika kita menentukan hidup kitadengan menggunakan pikiran yang sia-sia, kedegilan hati, dan perasaan yang tumpul maka pada saat itulah kita sedang mabuk anggur yang menimbulkan hawa nafsu.  Kita menyerahkan diri kepada hawa nafsu, ay. 18 bdk. 4:19 dan mendukakan Roh Kudus, ay. 30. Bukan kebetulan juga Paulus mengemukakan tentang perkataan seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung pujian , dan nyanyian rohani, bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati serta mengucap syukur  karena hal ini menunjukkan implikasi kekudusan Tuhan yang dipertentangkan dengan kecemaran di ayat 3-6 namun juga terang yang berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran itu terwujud, ay. 9.
Apa Responku?
Bertobat.  Saya melihat bagian dari hidup saya yang perlu diperhatikan adalah tentang siapa yang mengontrol hidup saya. Terutama berhubungan dengan kemarahan,  4:26, 31. Pada tanggal 9 November sekitar pk. 8 pagi saya menelpon isteri saya untuk meminta maaf atas kemarahan saya yang dapat melukai dia terlebih mendukakan Tuhan. Saya bilang bahwa masalahnya adalah saya mungkin tidak sadar bahwa perkataan saya ketika saya marah dapat menyakiti dia dan mendukakan Tuhan. Ini bukan saja yang dinyatakan Tuhan pada saya lewat Efesus tapi juga peristiwa kemarahan Musa yang mengatakan sesuatu yang Tuhan tidak suruh dia katakana ketika pada saat yang sama Musa memukul batu yang mengeluarkan air untuk memberi minum bangsa Israel. Tuhan berada di dekat didekat Musa pada waktu itu. Perkataan-Nya jika diterjemahkan dari bahasa Inggris “Hei pemberontak-pemberontak…” (Hey rebels…). Jadi Firman Tuhan mengingatkan saya untuk bertobat, menanggalkan, menyingkirkan kemarahan dari hidup saya,  dan sangat berhati-hati dalam perkataan saya karena saya tidak saja sedang berkata-kata kepada isteri, murid, anak saya tapi juga dihadapan Tuhan.  Roh Kudus yang saya dukakan.


[1] Sophos, membentuk rencana terbaik dan menggunakan sarana terbaik untuk melakukan tindakan atau eksekusi
[2] Waktu disini adalah kairos bukan kronos. Kairos disini adalah waktu yang tetap dan pasti definite article), saat hal-hal dibawah keadaan krisis karena hari-hari ini adalah jahat. Kairos tidak hanya sebagai suksesi menit, sebagaimana kata Yunani lainnya, yaitu chronos, tetapi Kronos disini merupakan periode kesempatan, kesempatan tertentu.

Jumat, 21 Oktober 2011

Hosea 1:1-9

Apa yang Kubaca?

1 Orang Israel bersukacita sementara mereka sebenarnya sedang berzinah dengan meninggalkan Tuhan. Mereka mencintai upah dari segala tempat daripada Tuhan.
2. Kenyataannya apa yang merupakan kebutuhan dan hasi yang mereka dapatkan itu akan mengecewakan mereka.
3. Itu sebabnya mereka tidak akan tinggal lagi ditanah mereka sebgagai bangsa Israel melainkan masuk ke dalam “perbudakkan” seperti ketika nenek moyang mereka di Mesir. Mereka akan mengalami pembuangan ke Asyur. Disanalah mereka akan mendapatkan apa yang sesungguhnya mereka tidak inginkan (najis)
4. Di sanalah mereka sesungguhnya akan berhenti melakukan tindakan yang tampak seolah-olah “menyenangkan hati” Tuhan. Karena sesungguhnya mereka melakukannya untuk diri mereka sendiri.
5. Tidak ada sesuatu halpun yang bisa dilakukan oleh mereka di pembuangan.
6. Ada orang-orang Israel yang mencoba untuk melarikan diri dari pemusnahan dan pembuangan tapi mereka tidak dapat lari dari penghukuman Tuhan. Bahkan barang-barang berhara, harta, merekapun tidak dapat mereka selamatkan.
7. Pemberitaan Hosea tentang penghukuman dan pembalasan itu akan dialami oleh Israel dan tentang perkataan Hosea itu ia disebut sebagai orang gila.
8. Nabinya, Hosea, malahan diintai, dan hal ini menandakaan kecurigaan terlebih permusuhan terhadap Tuhan yang mengutus nabi-Nya.
9. Perbuatan mereka busuk sampai-sampai Tuhan mengingat kesalahan dan dosa mereka. Hal ini menandakan bahwa ketiadaan pertobatan akan tetap membawa penghukuman.

Apa pesan Allah padaku?

1 Orang Israel bersukacita sementara mereka sebenarnya sedang berzinah dengan meninggalkan Tuhan. Mereka mencintai upah dari segala tempat daripada Tuhan. 2. Kenyataannya apa yang merupakan kebutuhan dan hasil yang mereka dapatkan itu akan mengecewakan mereka.

Pelajaran
Sukacita bisa hadir dalam hidup kita walaupun kita tengah meninggalkan Tuhan. Penyebabnya ialah upah, uang. Misalnya: Orang melupakan bahwa mengejar karir untuk mendapatkan uang bukanlah tujuan dari panggilan dalam seseorang bekerja. Panggilan menempatkan seseorang dihadapan Tuhan untuk menerima upah yang membuatnya tetap bersukacita. Namun sebaliknya seorang yang bekerja di dalam organisasi Kristen atau gereja dapat melayani tanpa upah yang wajar dan pada saat itu upah yang ditawarkan adalah upah yang tidak selayaknya diberikan di hadapan Tuhan. Jadi uang bisa di dapat dari segala tempat tapi apakah kecintaan pada uang yang menuntun kita untuk mendapatkannya. Lalu, dimana kecintaan kita kepada Tuhan? Ketika menganggap bahwa uang yang kita hasilkan berasal dari Tuhan sementara kita tidak mencari Tuhan maka sukacita kitapun semu. Itu sebabnya hasil yang kita dapatkan akhrinya akan mengecewakan, ay. 2.

3. Itu sebabnya mereka tidak akan tinggal lagi ditanah mereka sebagai bangsa Israel melainkan masuk ke dalam “perbudakkan” seperti ketika nenek moyang mereka di Mesir. Mereka akan mengalami pembuangan ke Asyur. Disanalah mereka akan mendapatkan apa yang sesungguhnya mereka tidak inginkan (najis). 4. Di sanalah mereka sesungguhnya akan berhenti melakukan tindakan yang tampak seolah-olah “menyenangkan hati” Tuhan. Karena sesungguhnya mereka melakukannya untuk diri mereka sendiri. 5. Tidak ada sesuatu halpun yang bisa dilakukan oleh mereka di pembuangan. 6. Ada orang-orang Israel yang mencoba untuk melarikan diri dari pemusnahan dan pembuangan tapi mereka tidak dapat lari dari penghukuman Tuhan. Bahkan barang-barang berhara, harta, merekapun tidak dapat mereka selamatkan.

Peringatan
Sebagai orang yang percaya kita diingatkan bahwa “perbudakkan” oleh uang dan apapun yang kita inginkan mendatangkan hukuman. Ketika penghukuman itu datang maka kita akan mendapatkan hal yang tidak kita inginkan.
Kita harus menghentikan segala tindakan yang seolah-olah menyenangkan hati Tuhan namun sebenarnya untuk menyenangkan diri kita sendiri. Saat beribadah atau pergi ke gereja, berdoa, memuji, apa yang kita cari? Apakah ibadah hanya untuk mencari status? Ketika kita berdoa, apakah kita banyak kali meminta jawaban Tuhan atas pergumulan kita atau berkat rohani yang Dia sediakan. Ketika kita memuji, apa yang kita siratkan dari pujian kita, apakah kesetiaan Tuhan? Lalu kapan kita menyatakan ketidaksetiaan kita di dahapan Tuhan dan bertobat.

7. Pemberitaan Hosea tentang penghukuman dan pembalasan itu akan dialami oleh Israel dan tentang perkataan Hosea itu ia disebut sebagai orang gila.8. Nabinya, Hosea, malahan diintai, dan hal ini menandakaan kecurigaan terlebih permusuhan terhadap Tuhan yang mengutus nabi-Nya.

Pelajaran
Pelajaran sebagai jemaat dan pemberita Injil, narasumber. Apakah kita “dibeli” atau “membeli” orang yang mengundang kita untuk siaran, berkhotbah dan melayani? Bagaimana kita menempatkan apa yang kita beritakan dan kita dengarkan secara proporsional (bukan saja yang menyenangkan telinga). Apakah kritik yang kita dengar dari seseorang yang mengasihi Tuhan dan diutusnya untuk memberitakan Injil menjadikan kita curiga? Hosea tidak saja dianggap orang gila, ia malahan diintai. Ketika kita mendapati bahwa Tuhan ingin kita menegur orang lain atau sebaliknya kita mendapatkan teguran bahkan berita tentang penghukuman apakah reaksi kita? Pernahkah kita menyadari bahwa berita yang dibawa oleh Hosea tentang ketidaksetiaan itu sangat dekat dengan kita sebagai umat-Nya. Ketidaksetiaan dengan suami-isteri, ketidaksetiaan dalam pekerjaan, ketidaksetiaan dalam janji pada Tuhan, ketidaksetiaan perjanjian kita dalam dunia bisnis, ketidaksetiaan guru terhadap murid, ketidaksetiaan pendeta untuk memperhatikan domab-domab-Nya, ketidaksetiaan jemaat dalam memberi dukungan bagi hamba Tuhan, dst.

9. Perbuatan mereka busuk sampai-sampai Tuhan mengingat kesalahan dan dosa mereka. Hal ini menandakan bahwa ketiadaan pertobatan akan tetap membawa penghukuman.

Peringatan
Tuhan tahu bagaimana kita meletakkan pertobatan ditengah hiruk pikuknya doa, penyembahan dan pujian kita dihadapan-Nya. Tuhan itu setia dan pengampun terhadap orang yang tidak saja menyesali perbuatannya namun juga bertobat. Karena setiap perbuatan kita yang tidak setia tercium oleh Tuhan. Tuhan “ingat” akan dosa kita karena kita tidak menanggalkannya. Ujiannya ialah kesetiaan. Ketiadaan kesetiaan menunjukkan ketiadaan pertobatan yang pada akhirnya membawa kpada hukuman.

Apa responku?

Bersyukur
Bersyukur untuk kitab Hosea yang memberitakan kesetiaan ditengah ketidaksetiaan kita.

Bertobat.
Kitab Hosea yang ditelusuri dari pasal 1-9 membuktikan bahwa saya bukanlah orang yang setia dalam Tuhan. Ada “compang-camping” dalam kesetiaan saya di dalam pekerjaan, maupun keluarga dihadapan Tuhan. Kalau kita bilang soal manajemen Tuhan dalam waktu dan ketepatan maka setiap hal yang menjadi tanggungjawab dan kesetiaan saya sangat lemah.

Bertindak.
Mencari setiap sisi kehidupan yang tidak menjukkan kesetiaan kita di hadapan Tuhan. contoh: Menemani anak saat pulang mengajar. Itu bukan saja menuntut komitment tapi juga kesetiaan. Walau saya sudah ber-BGA tiap hari ternyata masih banyak hal yang harus pelajari dan apalagi lakukan dalam Firman Tuhan. Memperbaharui sisi-sisi ketidaksetiaan saya dihadapan Tuhan.

Siap menghadapi konsekwensi disebut “gila” dalam menyampaikan Firman Tuhan yang menegur ketidaksetiaan diri maupun orang lain. Jangan takut, apalagi malu dalam menyampaikan apa yang Tuhan inginkan untuk saya beritakan.

Kamis, 09 September 2010

Mazmur 127 - Baca Gali Alkitab


Mazmur 127

127:1  
Nyanyian ziarah Salomo.

Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah,

sia-sialah usaha orang yang membangunnya;

jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota,

sia-sialah pengawal berjaga-jaga.

127:2  
Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi

                   dan duduk-duduk sampai jauh malam,

                   dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah—

sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.

127:3  
Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN,

                  dan buah kandungan adalah suatu upah.
127:4  
Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.

127:5  
Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu.

           Ia tidak akan mendapat malu,

                                                 apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang.


 
APA YANG KUBACA?


Mazmur 127 adalah dua perkataan hikmat disusun oleh Salomo sekitar pertengahan abad kesepuluh SM. Telah terlihat bahwa kedua ucapan-ucapan yang muncul terpisah pada awal-nya benar-benar memiliki struktur pemersatu antara mereka. Penyatuan Mazmur terletak ter-utama dalam bidang semantik dimana rumah dan keluarga terlihat dalam hubungan dan kota dan gerbang sebagai bagian dari golongan asosiasi . Salomo dengan pengalamannya ber-bicara tentang diktum dari Kedaulatan Allah. Mereka yang berusaha untuk menghadapi ke-butuhan kehidupan berupa tempat tinggal, keamanan, dan makanan tanpa pengakuan ter- hadap Tuhan adalah hidup mereka merupakan perjuangan dalam kesombongan.
Kesombongan menyatakan usaha ini menjadi kejahatan dan kekosongan efek spiritual. Tetapi orang-orang yang hidup dalam penundukkan diri terhadap Tuhan, bergantung pada bimbing-an, perlindungan, dan tangan-Nya yang memberi kebutuhan dapat merasakan jaminan ketika beristirahat bahwa semua akan baik-baik saja.

Tetapi kedaulatan Allah memiliki sisi positif juga, yaitu berkat putra. Anak-anak diberikan dari milik Allah ke dalam perawatan ayah. Jadi sebagai pemanah yang kuat ia dapat melatih anak-anaknya dengan baik sehingga pada saat membutuhkan, mereka dapat diandalkan. Mereka akan terbang lurus dan tentunya tidak berubah arah atau membelok. Jadi sebagai-mana ayahnya membela keadilan, dari jauh dia akan dating untuk menang, menjadi seorang pria perkasa. (Dahlberg)

Mazmur 127 adalah Mamur ibadah. Pemazmur membuka bait-bait puisinya yang menjelaskan bahwa puisi ini berupa nyanyian yang diciptakan oleh Salomo. Kata “Ziarah” yang secara literal artinya “naik” merujuk pada peribadatan di Yerusalem yang dilakukan Salomo. Kata “naik” menjelaskan kepada kita tentang letak bait Allah, yaitu di perbukitan, tepatnya bukit Sion.

Mazmur 127 adalah Mazmur hikmat. Mamur ini mengajarkan hikmat dari Tuhan yang menuntun kehidupan kita sehari-hari. Mazmur ini ingin meyakinkan orang Israel dan umat percaya pada masa kini untuk dipimpin oleh hikmat Tuhan.

Mazmur 127 adalah Mazmur yang menyentuh jiwa. Sebagaimana Mazmur lainnya, Mazmur 127 merupakan cermin dari jiwa pemazmur yang digubah dalam nyanyian bagi umat-Nya Israel dan kita sekalian orang yang percaya. Pertama-tama pemazmur menggunakan kata-kata yang menghimbau, “Jikalau bukan Tuhan…”. Himbauan ini seolah-olah ingin mengundang  orang-orang percaya untuk berpikir (menyentuh aspek pikiran) tentang siapakah yang sesungguhnya membangun rumah, yaitu mezbah Tuhan, rumah sebagai tempat kita bernaung, keluarga, pemerintahan. Siapakah yang sesungguhnya mengawal dan beraga-jaga atas segala sesuatu yang terjadi di sekitar kehidupan kita. Kedua, pemazmur menggunakan kata “sia-sialah” yang ingin menegaskan kepada kita tentang segala sesuatu sesungguhnya berada diluar kemampuan kita, menyentuh aspek kehendak kita. Segala sesuatu yang kita lakukan, kerjakan, bahkan anak-anak sebagai keturunan kita merupakan  milik pusaka Tuhan. Ketiga, pemzmur ingin membangkitkan perasaan kita dengan kata “bahagia” karena kita datang, belajar dan mendapatkan hikmat-Nya. Pemazmur mengungkapkan hal ini ketika ia berkata, “Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu”. Mamur 127 merupakan bait-bait puisi yang menyentuh jiwa untuk sungguh bergantung pada-Nya 

APAKAH PESAN ALLAH YANG DISAMPAIKAN?

PELAJARAN
Pesan Allah dalam Mamur Hikmat tentunya bersifat pengajaran bagi umat percaya. Pengajaran tentang Tuhan menjelaskan tentang peran Tuhan sebagai satu-satunya Pribadi yang membangun kehidupan kita, mulai dari apa yang hendak kita rencanakan, cita-citakan, lakukan, dan khususnya bagi kehidupan kita dalam rumah tangga.

Jika kita kembali kepada konteks Daud, ayah Salomo, maka kita menemukan bahwa Daudlah yang memiliki cita-cita membangun Bait Allah dan tanpa perkenanan Tuhan, Salomopun tidak dapat membangunnya.

Demikian juga Salomo membangun kerajaannya dengan meminta hikmat dari Tuhan. Baik pengalaman Daud dan Salomo mengingatkan kita peran Allah yang membangun kehidupan, pekerjaan, cita-cita dan rencana untuk membangun kehidupan kita menurut apa yang telah direncanakan-Nya. Aspek pelajaran disini mengandung keteladanan yang diberikan secara langsung atau tidak langsung oleh Daud dan terutama Salomo sebagai pencipta Mazmur ini.

Pengalaman buruk Daud dalam kasus perzinahan yang mengakibatkan kematian anak hasil persetubuhan dengan Betsheba, kemudian pertentangan atau konflik Daud dengan anaknya, Absalom yang ingin menjadi raja, sampai kepada Salomo yang memiliki banyak istri dan yang membuatnya beralih dari Tuhan kepada baal mengungkapkan apa yang sudah dipelajari oleh Salomo bahwa tanpa Tuhan yang berada dalam masa perkenalan, perkawinan dan rumah tangga maka membangun kehidupan keluaga yang kuat menjadi mustahil.

Pelajaran tentang Tuhan yang membangun “rumah” serta merta diikuti oleh peran Tuhan sebagai pengawal yang melindungi kehidupan orang yang percaya pada-Nya. Kita mengetahui bahwa masa kejayaan dan kelimpahan kerajaan Israel, yaitu tatkala Salomo memerintah, terjadi karena Allah turut mengawal kerajaan tersebut. Masa sulit karena peperangan yang dialami oleh Daud tidak lagi menjadi masalah Salomo. Allah sungguh mengawal kerajaan Israel karena keberadaan Bait Allah yang telah didirikan dan hikmat Salomo telah menjadi rujukan orang-orang Israel untuk hidup dalam takut akan Tuhan.

Sebagai umat percaya kita diajak untuk melihat bahwa apapun pencapaian yang kita sudah miliki merupakan bagian dari rencana dan pekerjaan Tuhan dalam hidup kita. Sebagaimana Tuhan melindungi Salomo maka kita juga perlu percaya bahwa Tuhan jugalah yang akan melanjutkan pekerjaan-Nya dengan mengawal kehidupan, pekerjaan, cita-cita kita sesuai dengan  apa telah yang direncanakan-Nya.

Kemudian pemazmur mengungkapkan peran Allah lainnya, yaitu peran-Nya sebagai Allah yang mencukupi kebutuhan orang-orang yang dicintai-Nya (ay. 2). Pesan Allah di sini menyingung usaha keras manusia yang setiap hari bangun pagi dan bekerja sampai larut malam untuk memenuhi kebutuhan mereka, hal ini dapat diwakili oleh orang-orang yang ingin menjadi kaya atau orang-orang yang berupaya keluar dari kemiskinan atau kekurangan. Ya, bekerja dengan susah payah seringkali membuat kita lupa bahwa Allah yang memberikan kecukupan akan kebutuhan kita (Doa Bapa kami – berikanlah makanan kami yang secukupnya bukan sekedar kecukupan akan kebutuhan, namun juga cermin doa atas dasar rasa cukup atau kerinduan untuk mencukupkan diri).

Pemazmur akhirnya menutup pengajarannya tentang  peran Tuhan sebagai pemberi anugerah. Dalam konteks ini anugerah yang diterima dalam sebuah rumah tangga adalah anak-anak. Disini Tuhan ingin menegaskan bahwa anak yang kita anggap sebagai milik kita sebenarnya adalah milik Tuhan, anak yang kita anggap sebagai hasil buah hasil perkawinan adalah anak sebagai buah kandungan, yang adalah suatu upah dari Tuhan (bnd. Kej. 15:1 –2)

Upah merupakan bagian dari janji Tuhan atas permintaan Abraham dan rencana Allah bagi keturunan Abraham. Kadang kita hanya melihat upah hanya sebatas dari besarnya iman kita kepada Tuhan tanpa bergantung pada janji Tuhan dan rencana Tuhan bagi anak-anak kita. Karena itu pemazmur mengingatkan kita kembali bahwa anak bukanlah milik kita. Mereka adalah milik Tuhan di dalam janji-Nya dan rencana-Nya secara khusus terhadap anak kita. Kita seakan-akan begitu terikat pada pemahaman punya anak atau tidak punya anak, punya anak laki-laki saja atau hanya punya anak perempuan. Kemudian setelah melihat keadaan kita, membandingkannya dengan orang lain, maka keberhargaan kita ditentukan oleh ada atau tidaknya anak atau ada tidaknya anak laki-laki/perempuan. Kita lupa bahwa Tuhanlah yang mempunyai semuanya, Allahlah yang memiliki anak-anak kita dan Dialah yang memiliki rencana atas anak kita bukan sebaliknya.

Jadi sebagaimana Allah membangun rumah, mengawal, memberi apa yang kita butuhkan, iapun memberi keturunan bagi keluarga. Konteks Mazmur 127 menyatakan salah satu berkat dari Allah dinyatakan melalui anak-anak. Anak-anak atas pemberian Tuhan menjadi begitu penting ketika dalam masa muda mereka. Mereka memilki kekuatan untuk mendukung keluarga dan menyelesaikan tugas yang diberikan sebelumnya oleh ayahnya. Sebagaimana seorang pahlawan (warrior) menguasai anak panahnya demikian pula seorang ayah dengan anaknya. Anak merupakan tanda kehormatan (indelible mark) dan mendatangkan kebahagiaan bagi kehidupan keluarganya. Semuanya itu terjadi jika setiap orang tua mengetahui bahwa anak-anak adalah milik pusaka yang diberikan Allah, Si Pemberi anugerah.

Lalu, apa pesan Allah yang berupa pelajaran tentang manusia?
Pemazmur ingin mengajarkan tentang kebergantungan kita pada Tuhan dalam membangun kehidupan keluarga, mengawalnya dan memberi kecukupan. Kita tahu bahwa Mazmur memiliki baris-baris puisi. Baris-baris puisi dalam Mamur 127:1-3 merupakan bari-baris puisi yang diulang-ulang secara pararel, dimana ada baris-baris yang mengulang kalimat atau kata-kata induk kalimat. Ketika pemazmur menyatakan “sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur”. “Pada waktu tidur” merupakan puncak pengulangan (klimaks) secara pararel tersebut. Disini Pemazmur ingin menegaskan kebergantungan kita. “Waktu tidur” memanndakan orang yang sunguh-sungguh mempercayakan diri kepada Tuhan (bukan bermalas-malasan). Pelajaran kepada kita disini mengarahkan kita untuk sungguh-sungguh bergantung kepada Allah sebagai pembangun, pengawal dan pemberi apa yang kita butuhkan.

PERINGATAN
Mazmur 127 mengingatkan kita akan cirri-ciri seorang workaholic (gila kerja) atau orang yang bekerja keras dari pagi sampai larut malam. Mereka dapat diasosiasikan sebagai orang-orang yang melakukan sesuatu bukan karena dicintai oleh Tuhan. Mereka bergelut mencari uang semata-mata untuk diri sendiri, baik disebabkan oleh tekanan atau keterpaksaan, kondisi ekonomi maupun keinginan untuk kaya. Hal ini bukan berarti kita tidak bisa bekerja sampai larut malam. Namun mereka yang bekerja sampai larut malam seharusnya menyadari bahwa kasih Tuhanlah yang memberikan kesempatan dirinya untuk bekerja, dan mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Kerja kerasnya merupakan akibat kasih Tuhan dalam bentuk ucapan syukur kepada-Nya. Pekerjaannya merupakan tanda kasih kepada Tuhan, bukan demi cintanya terhadap pekerjaan itu sendiri.

Mazmur ini juga ingin mengingatkan orangtua untuk memperlakukan anak-anak sebagai milik Tuhan. Orangtua bertanggungjawab atas milik pusaka Tuhan. Di lain pihak, seorang ayah ataupun orangtua perlu mencatat bahwa akan-anaknya di kemudian hari turut meng-hadapi apa yang menjadi masalah keluarga. Konteks pemerintahan pada saat Saul memerin-tah menjelaskan kepada kita bahwa Isai mengirimkan anak-anak laki-lakinya untuk turut berperang melawan bangsa Filistin. Konteks ini mengajarkan kepada kita bahwa ketika situasi perang muncul maka seorang anak laki-laki akan maju berperang untuk melindungi bangsanya karena mereka dididik dan berperan melindungi seluruh anggota keluarganya.

Konteks lainnya dicatat dalam Amos 5:12. Disini dibuktikan bahwa anak laki-laki terlibat untuk mendukung saat ayahnya mendapat perlakuan tidak adil. Kehadiran anak-anak mencegah seorang ayah dipermalukan. Karena anaknya, seorang ayah yang mendapat perlakuan tidak adil dapat berbicara dengan otoritas dan tidak lagi perlu takut dicela oleh orang lain. Anaknya berperan menjadi pendukung sekaligus jaminan untuk berperkara dengan orang lain. Demikian pula konteks saat Abraham mengirim hambanya untuk mencari pasangan hidup bagi Yakub. Hamba Abraham disambut dan mendapat persetujuan bukan saja oleh Betuel, ayah Ribka, namun juga oleh Laban, kakak laki-laki dari Ribka.

Jadi penting sekali bagi seorang ayah atau orangtua melatih anak-anaknya untuk melakukan hal yang benar. Keseluruhan Alkitab, terutama sehubungan dengan hikmat Tuhan, memberi bantuan kepada kita untuk menjadi keluarga yang teratur dengan baik (well order) karena didikan dan pengajaran Tuhan dan wakil-Nya, yaitu orangtua. Sebagaimana pemazmur mengajarkan pemahaman tentang kesia-siaan dalam segala sesuatu yang kita kerjakan tanpa Tuhan, maka sebagai orangtua, kita wajib mengajarkan semuanya kepada anak-anak kita. Kebahagiaan orantua terjadi tatkala kita, sebagai orangtua, telah memperkenalkan Tuhan atas perannya sebagai pembangun kehidupan rumah tangga; pemberi perlindungan dan pemenuh kebutuhan. Kebahagiaan hadir tatkala anak-anak mereka mampu berperan sebagaimana panggilan-Nya dan perannya dalam keluarga yang turut merepresentasikan peran pembangun, pelindung adan pemenuh kebutuhan keluarga.


JANJI
Sekilas pembacaan Mamur ini tidak mengandung sebuah janji. Namun secara grammatika atau tata bahasa, setiap kata kerja yang digunakan sehubungan dengan peran Tuhan, yaitu kata membangun, mengawal, dan memberikan merujuk pada peran aktif Allah dalam melakukan pekerjaan-Nya. Bahkan lebih jauh, pemazmur memperlihatakan bahwa apa yang Tuhan sudah kerjakan masih berlanjut. Pemazmur seolah-olah ingin menyatakan kepada kita  “The best yet to come” , masih ada hal-hal terbaik dari Tuhan yang akan datang. Karena itu marilah kita sungguh bergantung pada Tuhan dan rencana-Nya karena janji-Nya selalu mendatangkan kebaikan buat kita semua.


APA RESPONKU?

BERSYUKUR
Kita patut bersyukur atas hikmat yang melepaskan kita dari keterbebanan  hidup karena rutinitas pekerjaan yang tanpa menyadari bahwa sesungguhnya Tuhanlah yang membangun, mengawal dan memberi apa yang kita perlukan. Dialah yang menuntun langkah hidup kita.

Kitapun bersyukur atas anak-anak yang telah dikarunakan oleh Tuhan kepada kita menurut rencana Tuhan kepada mereka.

BERTOBAT
Kita perlu memperbaharui cara pandang kita terhadap segala jerih payah kita yang berpusat pada diri sendiri. Saat mana kita mengandalkan diri sendiri namun tidak pernah mendatangkan kepuasan jiwa dan rasa cukup.

Bertobat dari cara pandang kita terhadap anak-anak yang sering kita perlakukan bukan sebagai milik pusaka Tuhan.

BERBUAT
Kita belajar mempercayakan cita-cita, rencana, pekerjaan dan rumah tangga kita kepada Tuhan karena menyadari apa yang Tuhan sanggup perbuat dalam kehidupan kita sehari-hari.


BERDOA
Kita meminta Tuhan berperan penuh dalam rumah tangga kita. Berdoa mempercayakan diri dan keluarga kita dalam pembangunan, pengawalan dan atas pemberian rejeki kita sehari-hari.

Berdoa bagi anak-anak kita. Berdoa agar kita dimampukan untuk mengajarkan kepada mereka tentang Allah sebagai pembangun, pengawal dan pemberi sehingga anak-anak kita menyadari sepenuhnya bahwa jikalau bukan Tuhan sia-sialah apapun yang mereka kerjakan. Agar mereka mempunyai sikap hidup yang bergantung pada Tuhan.

Minggu, 10 Januari 2010

Be Truthful with Your Feelings for There is Answer from God


 A Conversation between Me and My Brother

John O.H. Sihombing (Me): Tomorrow i will back to teach my students. I didn't have more times to prepare but at least my mom can see that my son get his weight while i spent my time with my kids during holiday. Do you ever feel failure when you can’t do more at your work, school or activities? How do we see that failure in His perspective?
The problem is that we could always do better if we have more time. It's the same when I am preparing a sermon to preach. But God knows that time is not infinite, and gives us the job of dividing it up to chose what is most necessary to do. I see it as an opportunity to trust him. If time was infinite, we wouldn't need to trust him so much.  (Mike W.)