Selasa, 14 Oktober 2008

Berani Tampil Beda

Dare to be Different Pembacaan: 1 Samuel 14:1-23 Ada banyak dari kita hidup dalam Kekristenan tanpa mau mengambil resiko untuk tampil beda. Tidak berani tampil beda terindikasi pada orang-orang yang sama sekali tidak peduli dengan apa yang disebut dengan nilai-nilai Kristiani. Mereka sulit mengenali rencana dan pekerjan Tuhan dalam dunia ini. Orang-orang yang memilih untuk tidak tampil beda seringkali merasa takut atau kuatir akan ancaman, dijauhi, dibenci dan di-anggap sok suci oleh teman. Sehingga mereka tidak berani mengambil resiko untuk tampil beda. Ada orang-orang yang tidak berani tampil beda karena mereka mengangap bahwa mereka “tidak“ mau cari perhatian (Caper). Pada kenyataanya mereka mau di-perhatikan banyak orang, bahkan tidak pernah puas walau sudah ada yang memperhati-kan mereka. Dilain pihak ada orang –orang yang tidak menyadari bahwa tindak-tanduk mereka menunjukkan kalau mereka sudah merasa puas dengan kehidupan ritual sehari-hari. Orang-orang seperti ini menganggap bahwa usaha kita untuk dekat dengan Tuhan itu tanda seseorang bertumbuh secara rohani. Anggapan itu dibangun karena mereka sudah pergi beribadah, ikut kelompok tumbuh bersama, paduan suara, atau pelayanan lainnya. Rasa puas atas pertumbuhan rohani tanpa menampilkan kehidupan yang berbeda inipun merasuki kegiatan mereka sehari-hari. Peran mereka sebagai pelajar, pekerja, orangtua, maupun rohaniawan sebagai garam dan terangpun pudar. Mereka tidak menyadari bahwa kerohanianpun dapat membuat mereka berada dalam “comfort zone”. Perasaan puas membawa sikap acuh tak acuh dengan apa yang seharusnya dicapainya, yaitu hidup yang membawa pengaruh bagi orang lain, yaitu hidup yang berani tampil beda. Jadi, kalau kita memiliki hidup Kristen yang tidak berani ambil resiko, apa bedanya dengan orang yang tidak percaya kepada Kristus? Di lain pihak, jika kita sudah menyatakan bahwa kita sudah tampil beda, maka sudahkah hidup kita berpengaruh bagi orang lain? Jika kita tidak berani tampil beda, maka siapakah yang mau pergi dan menjadi wakil Tuhan melakukan kehendakNya? Siapakah yang berani tampil beda buat Tuhan? Karena itu, pertanyaan yang paling mendasar bagi kita untuk berani tampil beda adalah: Apa makna "berani tampil beda" dalam kehidupan Kristen? (to be continued)

Rabu, 24 September 2008

Principled as a Christian Worker

My basic principled is supporting everyone as long as i can. I come to understand that there are so many negative things that could happen between a worker with the other worker or a leader. Here few thought to be remembered: 1. Give the honor for God. Don’t fight for your-self in gaining respect, etc. Because God is the Only Person worthy to be praised 2. Give support whenever you can or make people to be recognized for their hard work. Always hope God give a spiritual gift to edify those who in need. 3. Give correction whenever you think it's not right. For this, try to be careful because you didn't want somebody thought that you didn't support them. So,everything must back to number 1. 4. Give you clear mind about what we need and what we depend on. You need everyone but you only depend on God. Because He will fight for you, He will always respect you and you will never feel left behind.

Kamis, 31 Juli 2008

Mengalahkan Kejahatan dengan Kebaikan

Roma 12:21

Di dalam kehidupan, tiap-tiap orang bisa menerima perbuatan yang tidak baik atau jahat dari sesamanya. Demikian pula, seorang percaya di dalam kehidupannya, mau atau tidak mau ia akan diperhadapkan dengan perbuatan jahat orang lain terhadap dirinya. Jika hal ini terjadi pada kita, apakah orang Kristen diperbolehkan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan? Mungkinkah mengalahkan kejahatan dengan kebaikan? Jika mungkin, bagaimana kita dapat mengalahkan kejahatan dengan kebaikan? Mari kita belajar tentang ini dari tulisan rasul Paulus.

Surat Roma ditulis Paulus ketika ia berada di Korintus meski ia sendiri tidak mendirikan jemaat di sana. Saat menulis surat itu, Paulus sedang mengorganisir pengumpulan dana untuk jemaat Yerusalem. Tindakan Paulus ini menyatakan kebaikannya yang peduli kepada keadaan jemaat Yerusalem (1 Kor 16:2-4; 2 Kor 9:1-5).[1] Kebaikan Paulus membuktikan bahwa ia seseorang yang kasihnya tidak pura-pura. Kualitas kasih seperti inilah yang menjadi modal dasar seseorang untuk bisa mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Sebab tidaklah mungkin seseorang mampu membalas kejahatan dengan kebaikan jika ia sendiri bukanlah orang yang baik. Tentu saja, baik yang dimaksud di sini adalah baik yang bersumber dari kasih Kristus, sebagaimana yang juga dimiliki oleh Paulus. Selanjutnya Paulus mendorong jemaat Roma untuk juga melakukan hal baik di tengah kejahatan yang mereka terima. Ketika itu, kondisi jemaat Roma (orang Yahudi) diperintahkan untuk meninggalkan Roma saat pemerintahan Tiberius (AD 19) dan Claudius (AD 41-54).[2] Mengalahkan kejahatan dengan kebaikan merupakan isi tulisan Paulus dalam Roma ps. 12, yang berbicara tentang kasih yang tidak pura-pura. Tulisannya ini menggambarkan kekuatan rohani Paulus yang bersumber dari Kristus dalam mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Karena itu berlanjut pada ps. 13, Paulus memberi contoh melakukan kebaikan dengan patuh kepada pemerintah, dengan tidak berbuat jahat melainkan bersikap hormat kepada pemerintah yang berhak menerimanya (13:1-7).

Sikap tidak membalas kejahatan malahan melakukan hal yang baik merupakan wujud nyata dari kasih yang tidak pura-pura. Paulus mendeskripsikan bahwa sikap orang yang tidak membalas kejahatan bahkan mengalahkannya dengan kebaikan merupakan tindak lanjut dari menjauhi apa yang jahat dan melakukan hal yang baik (Rm. 12:9). Pemikiran yang bertingkat ini menegaskan kepada kita bahwa kebaikan yang didasari kasih hendaknya jangan berhenti pada pemikiran untuk bersikap positif, melainkan lebih lanjut mengarahkan kita untuk melakukan perbuatan yang berguna dan bermanfaat bagi orang lain.[3] Jika kita melakukan perbuatan ini kepada orang lain maka ini ibarat lingkaran kasih yang mendorong orang lain itu melakukan perbuatan serupa kepada orang lainnya yang kelak akan diteruskan orang lain itu kepada orang yang lain lagi. Berarti perbuatan kita itu berdampak mempengaruhi orang lain dan orang lain lagi dan demikian seterusnya.

Paulus memerintahkan jemaat Roma untuk menaati perintah Allah untuk tidak membalas kejahatan namun melakukan hal yang baik kepada semua orang (ay. 17). Kebalikan dari perilaku kebanyakan orang yang membalas kejahatan dengan kejahatan, perintah ini merupakan seruan untuk tampil beda dengan melakukan hal yang berlawanan dengan arus. Perbuatan jahat yang dilakukan sebagai upaya pembalasan terhadap tindakan yang jahat, hendaknya jangan dibiarkan begitu saja. Hal ini sesegera mungkin harus ditanggapi dan diselesaikan dengan baik sebelum konflik meruncing dan perilaku jahat semakin menjadi-jadi sehingga dapat merugikan kedua belah pihak. Secara tegas Allah menginginkan kita untuk berhenti membalas kejahatan dengan kejahatan. Alkitab memberikan arahan bagi kita untuk menjauhi yang jahat sebelum kita terlibat di dalamnya. Namun jika ternyata ini tidak bisa kita hindari maka Allah menghendaki kita menaati perintah-Nya untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.

Perintah untuk berhenti membalas kejahatan dilanjutkan dengan seruan untuk melakukan hal yang baik. Perintah ini sekan-akan mendesak kita untuk bersikap progresif dalam menanggapi kejahatan. Dalam hal ini, keinginan manusia untuk membalas kejahatan dengan kejahatan digantikan dengan perintah Allah untuk membalas kejahatan dengan kebaikan. Intervensi Allah ditengah konflik dalam kehidupan kita perlu ditanggapi dengan serius. Sehebat apapun perlakuan jahat orang lain terhadap kita, Allah menginginkan kita untuk berhenti membalas kejahatan mereka dengan kejahatan dan justru kalahkan kejahatan dengan kebaikan.

Untuk mengerti bagaimana kejahatan bisa dikalahkan dengan kebaikan, kita perlu meneliti firman Tuhan pada ayat 17. Perintah “lakukanlah“ dilanjutkan dengan kata “apa yang baik bagi semua orang“. Di sini, kata “baik“ dikontraskan dengan kejahatan. Ini mengimplikasikan ada “pilihan“ bagi kita untuk me-“lakukan apa yang baik bagi semua orang“. Dengan demikian, Allah tidak semata-mata memerintahkan kita untuk mentaatinya seolah-olah kita tidak ada pilihan lain, sebab Ia memberikan kita pilihan berubah supaya kita mengetahui “apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna“ (ay. 2).

Pilihan kita untuk menaati perintah Allah dengan memilih untuk membalas kejahatan dengan kebaikan, diperkuat dengan himbauan Paulus yang menyatakan “sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang“ (ay. 18). Pada ayat yang sama, Paulus mengingatkan bahwa tindakan membalas kejahatan dengan kebaikan sebenarnya bergantung pada keputusan kita. Jika seseorang memilih membalas kejahatan dengan kejahatan, beberapa ayat Alkitab memberitahu kita, penyebabnya yaitu 1. Cemburu (Ams. 6:34); 2. Congkak/sombong (Mzm. 10:2; 1Raj. 22:24, 27); 3. Ukuran/pertimbangan diri sendiri (Mat. 7:1-5); 4. Dendam (Mrk. 6:19-24); 5. Merasa tersinggung atau tertegur (Kis. 5:33; 7:54-59); 6. Sakit hati dan marah (Kej. 34:7, 25).

Firman Tuhan mengajak kita untuk berpikir lebih jauh tentang reaksi membalas kejahatan dengan kejahatan. Reaksi ini sebenarnya tidak menciptakan kedaiamaian. Meskipun kita mengatakan memiliki damai dengan Allah di dalam Kristus Yesus, namun jika kita tidak hidup berdamai dengan sesama maka kita sedang membohongi diri sendiri. Pendamaian Allah dengan manusia terjadi ketika Yesus memilih untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahataan. Oleh karena itu, ketika kita mau memilih mengalahkan kejahatan dengan kebaikan maka kematian Yesus yang menebus kita tidak sia-sia. Sama seperti kematian Kristus yang mendamaikan semua orang yang percaya dengan Allah, maka kita pun hendaknya „mati“ dengan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan sehingga kita disebut anak-anak Allah yang membawa kedamaian.

Paulus menyatakan “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah karena pembalasan itu adalah hak-Ku” (Rm. 12:19). Dalam ayat 18-21 kata “pembalasan” dipakai 4 kali. Berarti kata ini penting artinya untuk kita perhatikan. Arti kata “pembalasan” dalam bahasa Yunani, berasal dari kata “ekdikeo”, Ek, artinya keluar sedangkan dikeo, artinya benar/kebenaran. Kata “pembalasan” berarti seseorang yang mengadakan perhitungan sendiri dan bersikap main hakim sendiri sebagai reaksi atas tindak kejahatan yang terjadi pada dirinya. Oleh karena itu, jelaslah bahwa tindakan membalas perbuatan jahat adalah tindakan di luar hukum. Kita tidak boleh melakukan pembalasan karena hal itu berada di luar hukum Allah dan pemerintah sebagai wakil Allah.

Sedangkan, dalam bahasa Ibrani, kata “pembalasan“ digunakan untuk pembalasan yang dilakukan oleh Tuhan dalam konteks yang berkaitan dengan keadilan dan kesucian-Nya. Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa Allah tidak menghendaki manusia melakukan pembalasan, karena kita sendiri tidak memiliki keadilan dan kesucian yang dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah dan manusia.

Selanjutnya, ay. 19 menyatakan, “Pembalasan itu adalah hak-Ku, Akulah yang akan menuntut pembalasan...“ Maksud firman ini nyata bahwa Tuhan meng-ingatkan bahwa kita tidak memiliki hak untuk melakukan pembalasan terhadap orang lain yang melakukan kejahatan dan sekaligus menempatkan diri kita sendiri sebagai hakim atas mereka. Mengapa tidak bisa? Kedudukan kita bukanlah sebagai hakim ataupun raja yang berwenang memutuskan hukuman apa yang setimpal untuk membalas perbuatan jahat seseorang. Meski demikian, kejahatan memang patut dihukum baik menurut Tuhan maupun hukum pemerintah sebagai wakil Allah (Rm. 13:4). Paulus mengingatkan status kita, katanya “ Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama.” (Rm. 2:1).

Lalu, apa tindakan kita terhadap orang yang telah berbuat jahat kepada kita? Firman Tuhan menyatakan,“Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan: jika ia haus berilah dia minum!“(Roma 12:20a). Di sini Firman Tuhan mengajarkan untuk selalu melihat kesempatan bagi kita untuk berbuat baik pada saat hal ini memungkinkan, khususnya kepada orang yang berbuat jahat terhadap kita. Peluang ini sangat besar karena Tuhan yang membuka kemungkinan tersebut supaya kita bisa melakukan kebaikan kepadanya. Bila saat itu tiba, Tuhan juga yang akan memberikan kemampuan kepada kita untuk melakukan kebaikan itu. Dampak dari kebaikan yang kita perbuat itu dahsyat sebab kebaikan yang di-lakukan oleh korban kejahatan kepada pelaku kejahatan mampu membawa seseorang kepada pertobatan.[4] Orang tersebut akan merasa malu seperti wajah seseorang yang ditumpukkan bara api di atas kepalanya (ay. 20b).

Alkitab tegas memerintahkan umat Tuhan untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Hal ini terdapat dalam Perjanjian Lama, seperti: Ams. 20:22, 24:2; Yes. 33:1. Dalam Perjanjian Baru, diantaranya: Rm. 12:17-19; 1Tes 5:15, perkataan Tuhan Yesus sendiri dalam Mat. 5:38-40 & Luk. 9:51-56. Paulus me-nyimpulkan pernyataannya tentang mengalahkan kejahatan dengan kebaikan yang bisa kita sebut sebagai prinsip Alkitab, yakni pada Roma 12:21 “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!“ Jadi, kemenangan seseorang terhadap kejahatan bukanlah ketika ia mengikuti keinginan hatinya untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Sebab kekalah-an terjadi justru ketika kita mengikuti niat yang menuntut balas dendam terhadap tindakan orang lain yang berbuat jahat terhadap kita.

Perlu diingat bahwa Paulus tidak menyatakan pembalasan Tuhan sebagai jawaban atas tuntutan kekesalan kita terhadap orang yang berbuat jahat atas kita. Sehingga kita tidak boleh memakai doa sebagai harapan agar Tuhan membalas orang yang berbuat jahat atas kita dengan hukuman seberat mungkin. Sebagai umat Tuhan, kita sedang mengalahkan sifat dan sikap jahat bukan pribadi orang yang berbuat jahat. Karena seseorang yang baik sebagai dampak anugerah keselamatan dari penebusan Kristus Yesus, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kemampuan untuk mengalahkan dosa dan kejahatan telah diberikan kepada kita oleh Kristus Yesus. Sama halnya Kristus yang telah mengalahkan dosa, maka kita diberi kuasa untuk mengalahkan kejahatan. Sebagaimana Roma 5:17 menyatakan, “Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus“. Sudahkah Anda mengalahkan kejahatan dengan kebaikan? Sekaranglah saatnya!

John O.H. Sihombing

Kepustakaan

Barclay, William. Roma - Pemahaman Alkitab Setiap Hari. Jakarta: BPK Gunung Mulia,

1986.

Bruce, F.F. The Epistle of Paul to the Romans: An Introduction and Commentary. Grand

Rapids, Michigan: Wm.B. Eerdmans Publishing Company.

Driver, Francis B.S.R dan C.A. Briggs, A Hebrew and English Lexicon of The Old Testament. Clarendon Press.

Dunn, James D.G., Word Biblical Commentary Volume 38B: Romans 9-16. Dallas:

Word Books, 1988

Cranfield, C.E.B., A Critical and Exegetical Commentary on the Epistle to the Romans,

The International Critical Commentary, T&T. Clark Limited, Edinburgh, 1975.

Pinson, William. The Word Topical Bible. Word Book Publishers.

Smick, Elmer. B. Theological Wordbook of the Old Testament. Peny. Um. R. Laird Harris. Moody Press.

Vine, W.E. Vine’s Dictionary. Word Publishing.

Walker, D.F. Konkordasi Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.

Zodhiates,, Spiros. The Complete Word study Dictionary of New Testament.

Chattanooga, Tennessee: AMG Publishers.


[1] William Barclay. hal. 10.

[2] FF. Bruce. hal. 13-14

[3] Penggunaan kata “baik” merujuk pada tindakan yang dapat memberi pengaruh bagi orang lain. Tindakan

tersebut dapat merupakan sesuatu yang abstrak, yaitu sesuatu yang berguna dan bermanfaat (Spiros

Zodhiates, hal. 62-63)

[4] Ungkapan “bara api diatas kepalanya” merujuk pada ritual Mesir ketika seseorang membuktikan pertobatannya dihadapan publik dengan membawa piring yang penuh dengan bara api di atas kepalanya. (F.F. Bruce, hal 230, Cranfield hal. 649-650 dan Dunn, hal. 750-751)

Minggu, 11 Mei 2008

AXIS 666 dan Nomor 0866/08666

Pertanyaan kepada saya melalui sms.

B’ John, emank kartu GSM Axis pendukung gereja setan? Demikian pertanyaan seorang pemuda kepada saya. Sebenarnya isu inipun saya terima melalui sms seminggu yang lalu. Ketika saya bertelepon dengan keponakkan saya, dia juga menerima isu tersebut dan mengatakan karena promo Axis itu menggunakan 60, 60 dan 600, sehingga angka 6 tersebut bisa dideretkan menjadi 666.

Kemudian pemuda tersebut menambahkan lagi dengan menambahkan , “Saya mendapat sms dari teman katanya begitu dan sudah banyak yang tewas karena pake kartu tersebut. (Ev)

Bagi kamu mania hp, DILARANG mengangkat panggilandengan nomor 0866 dan 08666. Ciri-ciriangka berwarna merah/biru. (Warning: Jika terangkat, terimalah jatah anda..!!).

Bang, katanya dah ada korban koq. Ada di koran bang. Katanya kalau layarnya merah berarti jangan diangkat. Getoh bang.. (Mo)

Pertanyaan yang dikemukakan secara tidak langsung pada saya.

Seorang ibu yang mendapatkan telpon dari keluarganya di lain kota yang menanyakan tentang keadaannya karena sms tersebut. Ia mengakhiri kalimatnya, "mengapa tidak ada jawaban dari internet kek? (Nv)

Ev – Pemuda di salah satu gereja

Mo – Pemudi yang masih saudara saya.

Nv - Seorang ibu

Ada dua sms yang beredar saat ini. Pertama, sms berkaitan dengan provider seluler dan kedua, sms berkaitan dengan larangan mengangkat panggilan dari nomor tertentu. Keduanya bisa mengarah kepada tuduhan, keuntungan dengan memancing ditengah air keruh atau keresahan atau kekuatiran. Pernahkah kita bertanya, mengapakah kita masih terusik dengan nomor atau angka 666 seperti isu dua tahun yang lalu tentang tanggal 06 bulan 06 dan tahun 2006. Masih ingatkah anda dengan isu tersebut? Pembahasan ini diharapkan mengarahkan kita tentang begitu pentingnya mengenal Alkitab dan kuasa Yesus di sorga dan di bumi (Matius 28:18).

Rasionalitas yang mengarah pada sumber

Apakah kedua sms tersebut kebetulan saja? Perhatikan keduanya mengangkat thema yang sama, yaitu angka 666, angka yang selalu diasosiasikan dengan antikritus. Karena kedua sms ini muncul berdekatan maka kita dapat menduga bahwa masalah sebenarnya terletak pada pengirim pertama berita tersebut, bukan pada nomor atau angka apapun yang digunakan. Secara rasional, sms seperti ini mengarahkan kepada sumber, yaitu pengirim pertama bukan pada interpretasi yang irasional.

Mengenai Angka 6, 60, 600 dalam Alkitab

Angka 6, 60, 600 terdapat dalam beberapa kitab Perjanjian Baru, seperti kitab Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Kisah Rasul, Yakobus, dan Wahyu. Angka-angka ini tidak semuanya digunakan sehubungan dengan angka 666. Bahkan kitab Wahyu yang

selalu dihubungkan dengan penggunaan angka ini tidak menempatkan angka ini sebagai angka yang sangat penting sehingga harus diulang-ulang. Pada Wahyu 4:8 , angka 6 berhubungan dengan makhluk bersayap enam, Wahyu 11:3 dan 12:6 berkaitan dengan menunjuk pada waktu, “seribu dua ratus enam puluh hari lamanya“. Angka 666 itu hanya disebutkan sekali dalam kaitannya dengan bilangan “enam ratus enam puluh enam enam“ (Wahyu 13:18).

Tujuan Kitab Wahyu

Penggunaan kata 666 itu juga bukanlah tujuan yang sangat penting dan genting untuk disampaikan oleh penulis Kitab, yaitu Rasul Yohanes. Bahkan tujuan kitab ini dinyatakan dalam pasal 1:3, yaitu kebahagiaan, bukan ketakutan. Yohanes menyatakan, “Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat“.

Korban dan Perjanjian

Lalu apakah kita dapat menjadi korban? Korban hanya dimungkinkan jika seseorang memiliki perjanjian dengan si jahat, ada hubungan yang terjadi sebelumnya. Jadi bukan karena mengangkat telpon atau menerima sms. Alkitab menggunakan kata Covenant dalam menjabarkan perjanjian kasih satu arah dari Tuhan kepada manusia, namun untuk si jahat digunakan kata “aggrement“ yang berarti dua arah. Karena itu, kita mendapati bahwa kasih Allah terhadap kita tidak terpengaruh oleh kegagalan kita dalam mengasihiNya. Bahkan Paulus meyakinkan kita dengan menyatakan, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?“ Paulus menjabarkan dalam Roma 8:31-39 bahwa Allah di pihak kita (ay. 31) dengan kematian Yesus yang menjadikan kita orang-orang pilihanNya; kebangkitanNya yang membela kita; dan kasihNya yang tidak memisahkan kita bahkan menjadikan kita menjadi orang-orang yang menang. Baik maut, maupun hidup....tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita

Jadi Dialah yang berkorban untuk menunjukkan perjanjianNya dalam kasih. Berbeda dengan si jahat yang menuntut anda berkorban sebagai konsekwensi permintaan anda kepadanya. Pertanyaannya menjadi sederhana, apakah anda mempunyai hubungan dengan Tuhan dengan perjanjianNya atau dengan si jahat? Percayalah kepada Kasih Kristus yang telah mengalahkan maut.

Perlindungan Tuhan,

Ada banyak orang yang hidupnya dalam ketakutan, baik ketakutan ketakutan terhadap kematian maupun kejahatan. Rasa takut adalah wajar dan membawa seseorang pada sikap mawas diri. Namun sikap mawas diri bukanlah jaminan seseorang menyatakan dirinya terbebas dari ketakutan. Orang yang mawas diri akan melibatkan Tuhan sebagi pelindung dalam kehidupannya. Lagipula, bukankah Tuhan yang “membuat pagar sekeliling dia (Ayub) dan rumahnya serta segala yang dimilikinya“? (Ayub 1:10) Lalu apakah yang kita perlu takutkan jika segala sesuatu berada di bawah kuasaNya? Apakah anda mempercayakan diri anda dalam perlindunganNya?