Contextual Interpretation: Menafsirkan berdasarkan konteks dalam perikop sesudah atau sebelumnya. Ada 3 penafsiran berdasarkan konteks yang bisa dikemukakan disini, yaitu:
1. Yesus melakukan pembasuhan kaki karena murid-murid di dapati memikirkan posisi mereka
dalam kepemimpinan nantinya. Mereka masih mengagangap bahwa ada saatnya pemerintahan Yesus akan membebaskan mereka dari penjajahan Roma. Disini Yesus memberikan teladan agar ‘siapa yang menganggap dirinya sebagai pemimpin’ seharusnya melayani dengan kerendahan hati.
Yesus mengajarkan kepada murid-muridnya agar saling membasuh kaki, artinya saling melayani satu dengan yang lainnya. Yesus, yang datang dari Allah rela merendahkan hatinya untuk melayani,pelayanan yang menyelamatkan umatNya.
2. Yesus membasuh kaki murid-muridNya sebagai pertanda bahwa diriNya akan berkorban bagi murid-muridnya dan orang yang percaya kepadaNya. Ia tidak saja datang untuk membasuh kaki murid-muridnya yang kotor tapi Ia juga datang untuk membasuh dosa mereka dengan darahNya.
3. Yesus membasuh kaki murid-muridnya dikaitkan dengan penyucian secara rohani. “A Person cannot enjoy the blessing which result from a close, personal walk with Jesus Christ without being spiritually cleansed”. (Spiros Zodhiates, The Compleete Wordstudy New testament, p. 359)
Alasan-alasan khusus yang kurang mendukungpembasuhan kaki dilakukan diberbagai kesempatanwaktu dan tempat.
Textual Interpretation:
1. Yesus membasuh kaki murid-muridnNya. Ini berarti bahwa Yesus membasuh kaki orang-orang yang sudah menjadi muridNya. Jadi, orang yang dibasuh kakinya adalah orang yang telah menjadi murid Kristus atau telah dimuridkan.
2. Yesus membasuh ke dua belas muridNya. Yesus tidak melakukan pembasuhan dihadapan orang banyak sama seperti saat Ia memberimakan lima ratus orang. Ia melakukannya bukan dihadapn publik, bukan dalam jumlah besar tapi dalam kelompok dua belas murid. Intensitas pemaknaan dari tindakan Yesus diharapkan didengar dan dipahami oleh muird-murid. Itu sebabnya Petrus yang “tidak mengerti” kembali mendapatkan peneegasan maksud oleh Tuhan Yesus.
Word and Grammatical Interpretation: Menafsirkan berdasarkan prinsip-prinsip tata bahasa asli Alkitab.
Kalimat yang perlu digaris bawahi untuk ditafsirakan secara grammatical adalah: “For I have given you an example, that ye should do as I have done to you” (KJV). Kalimat ini penting karena Yesus tidak saja memberikan kita teladan, namun Ia meminta untuk murid-muridNya melakukan hal yang serupa. Kata “do” atau “berbuat” berasal dari kata Yunani, poios , quality. To make; to endow a person or thing with certain quality. Poieo may well refer to doing once for all, the producing and bringing forth something which, when produced, has an independent existence of its own (Spiros Zodhiates p. 931). Arti kata “berbuat” menjelaskan kepada kita bahwa tindakan membasuh kaki dikategorikan sebagai tindakan yang dikerjakan menurut kualitas tertentu. Perbuatan ini dilakukan untuk menghasilkan sesuatu yang berdiri sendiri. Jika demikian maka, perbuatan membasuh kaki yang dilakukan oleh Yesus tidak secara asal dilakukan. Ia melakukanNya agar murid-muridNya dapat melakukan hal yang sama, menurut kualitas yang diajarkanNya kepada murid-muridNya. Arti kata “berbuat” menjelaskan kepada kita bahwa mencuci kaki bukanlah sesuatu yang dilakukan sembarangan. Sesuatu yang dilakukan dengan pertimbangan lebih dari tindakan itu sendiri. “It’s bring out more the object and end of an act” (Zodhiates, p. 931).
Secara gramatika kata “berbuat” merujuk pada tindakan yang dilakukan secara terus-menerus (present subjunctive).The subjunctive mood suggests that the action is subject to some condition (Zodhiates, p. 868). Tindakan membasuh kaki merupakan teladan yang dilakukan Yesus dalam sebagian kondisi tertentu (bandingkan dengan kata “menganiaya” Matius 10:23). Karena itu, kita harus memperhatikan bahwa “perbuatan” membasuh kaki merupakan kewajiban yang terbatas, kewajiban yang berada dalam konteks murid-murid Yesus (Yohanes 13:13). Jika kita ingin memperluasnya diluar konteks murid-murid Yesus, maka ada kemungkinan kita telah melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak diwajibkan bagi kita atau kita bisa melakukannya dengan sangat berhati-hati, tidak gegabah, tidak menyederhanakannya, apalagi menggampangkan menurut keinginan kita sendiri.
Keduanya (studi kata dan gramatika) memiliki konsekwensi , mulai dari “menambahkan apa yang sudah tertulis” (Wahyu 22:18) sampai sebuah tindakan yang tidak memiliki kualitas tertentu, bahkan bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh Yesus kepada murid-muridNya.