Jumat, 21 Oktober 2011

Hosea 1:1-9

Apa yang Kubaca?

1 Orang Israel bersukacita sementara mereka sebenarnya sedang berzinah dengan meninggalkan Tuhan. Mereka mencintai upah dari segala tempat daripada Tuhan.
2. Kenyataannya apa yang merupakan kebutuhan dan hasi yang mereka dapatkan itu akan mengecewakan mereka.
3. Itu sebabnya mereka tidak akan tinggal lagi ditanah mereka sebgagai bangsa Israel melainkan masuk ke dalam “perbudakkan” seperti ketika nenek moyang mereka di Mesir. Mereka akan mengalami pembuangan ke Asyur. Disanalah mereka akan mendapatkan apa yang sesungguhnya mereka tidak inginkan (najis)
4. Di sanalah mereka sesungguhnya akan berhenti melakukan tindakan yang tampak seolah-olah “menyenangkan hati” Tuhan. Karena sesungguhnya mereka melakukannya untuk diri mereka sendiri.
5. Tidak ada sesuatu halpun yang bisa dilakukan oleh mereka di pembuangan.
6. Ada orang-orang Israel yang mencoba untuk melarikan diri dari pemusnahan dan pembuangan tapi mereka tidak dapat lari dari penghukuman Tuhan. Bahkan barang-barang berhara, harta, merekapun tidak dapat mereka selamatkan.
7. Pemberitaan Hosea tentang penghukuman dan pembalasan itu akan dialami oleh Israel dan tentang perkataan Hosea itu ia disebut sebagai orang gila.
8. Nabinya, Hosea, malahan diintai, dan hal ini menandakaan kecurigaan terlebih permusuhan terhadap Tuhan yang mengutus nabi-Nya.
9. Perbuatan mereka busuk sampai-sampai Tuhan mengingat kesalahan dan dosa mereka. Hal ini menandakan bahwa ketiadaan pertobatan akan tetap membawa penghukuman.

Apa pesan Allah padaku?

1 Orang Israel bersukacita sementara mereka sebenarnya sedang berzinah dengan meninggalkan Tuhan. Mereka mencintai upah dari segala tempat daripada Tuhan. 2. Kenyataannya apa yang merupakan kebutuhan dan hasil yang mereka dapatkan itu akan mengecewakan mereka.

Pelajaran
Sukacita bisa hadir dalam hidup kita walaupun kita tengah meninggalkan Tuhan. Penyebabnya ialah upah, uang. Misalnya: Orang melupakan bahwa mengejar karir untuk mendapatkan uang bukanlah tujuan dari panggilan dalam seseorang bekerja. Panggilan menempatkan seseorang dihadapan Tuhan untuk menerima upah yang membuatnya tetap bersukacita. Namun sebaliknya seorang yang bekerja di dalam organisasi Kristen atau gereja dapat melayani tanpa upah yang wajar dan pada saat itu upah yang ditawarkan adalah upah yang tidak selayaknya diberikan di hadapan Tuhan. Jadi uang bisa di dapat dari segala tempat tapi apakah kecintaan pada uang yang menuntun kita untuk mendapatkannya. Lalu, dimana kecintaan kita kepada Tuhan? Ketika menganggap bahwa uang yang kita hasilkan berasal dari Tuhan sementara kita tidak mencari Tuhan maka sukacita kitapun semu. Itu sebabnya hasil yang kita dapatkan akhrinya akan mengecewakan, ay. 2.

3. Itu sebabnya mereka tidak akan tinggal lagi ditanah mereka sebagai bangsa Israel melainkan masuk ke dalam “perbudakkan” seperti ketika nenek moyang mereka di Mesir. Mereka akan mengalami pembuangan ke Asyur. Disanalah mereka akan mendapatkan apa yang sesungguhnya mereka tidak inginkan (najis). 4. Di sanalah mereka sesungguhnya akan berhenti melakukan tindakan yang tampak seolah-olah “menyenangkan hati” Tuhan. Karena sesungguhnya mereka melakukannya untuk diri mereka sendiri. 5. Tidak ada sesuatu halpun yang bisa dilakukan oleh mereka di pembuangan. 6. Ada orang-orang Israel yang mencoba untuk melarikan diri dari pemusnahan dan pembuangan tapi mereka tidak dapat lari dari penghukuman Tuhan. Bahkan barang-barang berhara, harta, merekapun tidak dapat mereka selamatkan.

Peringatan
Sebagai orang yang percaya kita diingatkan bahwa “perbudakkan” oleh uang dan apapun yang kita inginkan mendatangkan hukuman. Ketika penghukuman itu datang maka kita akan mendapatkan hal yang tidak kita inginkan.
Kita harus menghentikan segala tindakan yang seolah-olah menyenangkan hati Tuhan namun sebenarnya untuk menyenangkan diri kita sendiri. Saat beribadah atau pergi ke gereja, berdoa, memuji, apa yang kita cari? Apakah ibadah hanya untuk mencari status? Ketika kita berdoa, apakah kita banyak kali meminta jawaban Tuhan atas pergumulan kita atau berkat rohani yang Dia sediakan. Ketika kita memuji, apa yang kita siratkan dari pujian kita, apakah kesetiaan Tuhan? Lalu kapan kita menyatakan ketidaksetiaan kita di dahapan Tuhan dan bertobat.

7. Pemberitaan Hosea tentang penghukuman dan pembalasan itu akan dialami oleh Israel dan tentang perkataan Hosea itu ia disebut sebagai orang gila.8. Nabinya, Hosea, malahan diintai, dan hal ini menandakaan kecurigaan terlebih permusuhan terhadap Tuhan yang mengutus nabi-Nya.

Pelajaran
Pelajaran sebagai jemaat dan pemberita Injil, narasumber. Apakah kita “dibeli” atau “membeli” orang yang mengundang kita untuk siaran, berkhotbah dan melayani? Bagaimana kita menempatkan apa yang kita beritakan dan kita dengarkan secara proporsional (bukan saja yang menyenangkan telinga). Apakah kritik yang kita dengar dari seseorang yang mengasihi Tuhan dan diutusnya untuk memberitakan Injil menjadikan kita curiga? Hosea tidak saja dianggap orang gila, ia malahan diintai. Ketika kita mendapati bahwa Tuhan ingin kita menegur orang lain atau sebaliknya kita mendapatkan teguran bahkan berita tentang penghukuman apakah reaksi kita? Pernahkah kita menyadari bahwa berita yang dibawa oleh Hosea tentang ketidaksetiaan itu sangat dekat dengan kita sebagai umat-Nya. Ketidaksetiaan dengan suami-isteri, ketidaksetiaan dalam pekerjaan, ketidaksetiaan dalam janji pada Tuhan, ketidaksetiaan perjanjian kita dalam dunia bisnis, ketidaksetiaan guru terhadap murid, ketidaksetiaan pendeta untuk memperhatikan domab-domab-Nya, ketidaksetiaan jemaat dalam memberi dukungan bagi hamba Tuhan, dst.

9. Perbuatan mereka busuk sampai-sampai Tuhan mengingat kesalahan dan dosa mereka. Hal ini menandakan bahwa ketiadaan pertobatan akan tetap membawa penghukuman.

Peringatan
Tuhan tahu bagaimana kita meletakkan pertobatan ditengah hiruk pikuknya doa, penyembahan dan pujian kita dihadapan-Nya. Tuhan itu setia dan pengampun terhadap orang yang tidak saja menyesali perbuatannya namun juga bertobat. Karena setiap perbuatan kita yang tidak setia tercium oleh Tuhan. Tuhan “ingat” akan dosa kita karena kita tidak menanggalkannya. Ujiannya ialah kesetiaan. Ketiadaan kesetiaan menunjukkan ketiadaan pertobatan yang pada akhirnya membawa kpada hukuman.

Apa responku?

Bersyukur
Bersyukur untuk kitab Hosea yang memberitakan kesetiaan ditengah ketidaksetiaan kita.

Bertobat.
Kitab Hosea yang ditelusuri dari pasal 1-9 membuktikan bahwa saya bukanlah orang yang setia dalam Tuhan. Ada “compang-camping” dalam kesetiaan saya di dalam pekerjaan, maupun keluarga dihadapan Tuhan. Kalau kita bilang soal manajemen Tuhan dalam waktu dan ketepatan maka setiap hal yang menjadi tanggungjawab dan kesetiaan saya sangat lemah.

Bertindak.
Mencari setiap sisi kehidupan yang tidak menjukkan kesetiaan kita di hadapan Tuhan. contoh: Menemani anak saat pulang mengajar. Itu bukan saja menuntut komitment tapi juga kesetiaan. Walau saya sudah ber-BGA tiap hari ternyata masih banyak hal yang harus pelajari dan apalagi lakukan dalam Firman Tuhan. Memperbaharui sisi-sisi ketidaksetiaan saya dihadapan Tuhan.

Siap menghadapi konsekwensi disebut “gila” dalam menyampaikan Firman Tuhan yang menegur ketidaksetiaan diri maupun orang lain. Jangan takut, apalagi malu dalam menyampaikan apa yang Tuhan inginkan untuk saya beritakan.

Kamis, 09 September 2010

Mazmur 127 - Baca Gali Alkitab


Mazmur 127

127:1  
Nyanyian ziarah Salomo.

Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah,

sia-sialah usaha orang yang membangunnya;

jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota,

sia-sialah pengawal berjaga-jaga.

127:2  
Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi

                   dan duduk-duduk sampai jauh malam,

                   dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah—

sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.

127:3  
Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN,

                  dan buah kandungan adalah suatu upah.
127:4  
Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.

127:5  
Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu.

           Ia tidak akan mendapat malu,

                                                 apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang.


 
APA YANG KUBACA?


Mazmur 127 adalah dua perkataan hikmat disusun oleh Salomo sekitar pertengahan abad kesepuluh SM. Telah terlihat bahwa kedua ucapan-ucapan yang muncul terpisah pada awal-nya benar-benar memiliki struktur pemersatu antara mereka. Penyatuan Mazmur terletak ter-utama dalam bidang semantik dimana rumah dan keluarga terlihat dalam hubungan dan kota dan gerbang sebagai bagian dari golongan asosiasi . Salomo dengan pengalamannya ber-bicara tentang diktum dari Kedaulatan Allah. Mereka yang berusaha untuk menghadapi ke-butuhan kehidupan berupa tempat tinggal, keamanan, dan makanan tanpa pengakuan ter- hadap Tuhan adalah hidup mereka merupakan perjuangan dalam kesombongan.
Kesombongan menyatakan usaha ini menjadi kejahatan dan kekosongan efek spiritual. Tetapi orang-orang yang hidup dalam penundukkan diri terhadap Tuhan, bergantung pada bimbing-an, perlindungan, dan tangan-Nya yang memberi kebutuhan dapat merasakan jaminan ketika beristirahat bahwa semua akan baik-baik saja.

Tetapi kedaulatan Allah memiliki sisi positif juga, yaitu berkat putra. Anak-anak diberikan dari milik Allah ke dalam perawatan ayah. Jadi sebagai pemanah yang kuat ia dapat melatih anak-anaknya dengan baik sehingga pada saat membutuhkan, mereka dapat diandalkan. Mereka akan terbang lurus dan tentunya tidak berubah arah atau membelok. Jadi sebagai-mana ayahnya membela keadilan, dari jauh dia akan dating untuk menang, menjadi seorang pria perkasa. (Dahlberg)

Mazmur 127 adalah Mamur ibadah. Pemazmur membuka bait-bait puisinya yang menjelaskan bahwa puisi ini berupa nyanyian yang diciptakan oleh Salomo. Kata “Ziarah” yang secara literal artinya “naik” merujuk pada peribadatan di Yerusalem yang dilakukan Salomo. Kata “naik” menjelaskan kepada kita tentang letak bait Allah, yaitu di perbukitan, tepatnya bukit Sion.

Mazmur 127 adalah Mazmur hikmat. Mamur ini mengajarkan hikmat dari Tuhan yang menuntun kehidupan kita sehari-hari. Mazmur ini ingin meyakinkan orang Israel dan umat percaya pada masa kini untuk dipimpin oleh hikmat Tuhan.

Mazmur 127 adalah Mazmur yang menyentuh jiwa. Sebagaimana Mazmur lainnya, Mazmur 127 merupakan cermin dari jiwa pemazmur yang digubah dalam nyanyian bagi umat-Nya Israel dan kita sekalian orang yang percaya. Pertama-tama pemazmur menggunakan kata-kata yang menghimbau, “Jikalau bukan Tuhan…”. Himbauan ini seolah-olah ingin mengundang  orang-orang percaya untuk berpikir (menyentuh aspek pikiran) tentang siapakah yang sesungguhnya membangun rumah, yaitu mezbah Tuhan, rumah sebagai tempat kita bernaung, keluarga, pemerintahan. Siapakah yang sesungguhnya mengawal dan beraga-jaga atas segala sesuatu yang terjadi di sekitar kehidupan kita. Kedua, pemazmur menggunakan kata “sia-sialah” yang ingin menegaskan kepada kita tentang segala sesuatu sesungguhnya berada diluar kemampuan kita, menyentuh aspek kehendak kita. Segala sesuatu yang kita lakukan, kerjakan, bahkan anak-anak sebagai keturunan kita merupakan  milik pusaka Tuhan. Ketiga, pemzmur ingin membangkitkan perasaan kita dengan kata “bahagia” karena kita datang, belajar dan mendapatkan hikmat-Nya. Pemazmur mengungkapkan hal ini ketika ia berkata, “Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu”. Mamur 127 merupakan bait-bait puisi yang menyentuh jiwa untuk sungguh bergantung pada-Nya 

APAKAH PESAN ALLAH YANG DISAMPAIKAN?

PELAJARAN
Pesan Allah dalam Mamur Hikmat tentunya bersifat pengajaran bagi umat percaya. Pengajaran tentang Tuhan menjelaskan tentang peran Tuhan sebagai satu-satunya Pribadi yang membangun kehidupan kita, mulai dari apa yang hendak kita rencanakan, cita-citakan, lakukan, dan khususnya bagi kehidupan kita dalam rumah tangga.

Jika kita kembali kepada konteks Daud, ayah Salomo, maka kita menemukan bahwa Daudlah yang memiliki cita-cita membangun Bait Allah dan tanpa perkenanan Tuhan, Salomopun tidak dapat membangunnya.

Demikian juga Salomo membangun kerajaannya dengan meminta hikmat dari Tuhan. Baik pengalaman Daud dan Salomo mengingatkan kita peran Allah yang membangun kehidupan, pekerjaan, cita-cita dan rencana untuk membangun kehidupan kita menurut apa yang telah direncanakan-Nya. Aspek pelajaran disini mengandung keteladanan yang diberikan secara langsung atau tidak langsung oleh Daud dan terutama Salomo sebagai pencipta Mazmur ini.

Pengalaman buruk Daud dalam kasus perzinahan yang mengakibatkan kematian anak hasil persetubuhan dengan Betsheba, kemudian pertentangan atau konflik Daud dengan anaknya, Absalom yang ingin menjadi raja, sampai kepada Salomo yang memiliki banyak istri dan yang membuatnya beralih dari Tuhan kepada baal mengungkapkan apa yang sudah dipelajari oleh Salomo bahwa tanpa Tuhan yang berada dalam masa perkenalan, perkawinan dan rumah tangga maka membangun kehidupan keluaga yang kuat menjadi mustahil.

Pelajaran tentang Tuhan yang membangun “rumah” serta merta diikuti oleh peran Tuhan sebagai pengawal yang melindungi kehidupan orang yang percaya pada-Nya. Kita mengetahui bahwa masa kejayaan dan kelimpahan kerajaan Israel, yaitu tatkala Salomo memerintah, terjadi karena Allah turut mengawal kerajaan tersebut. Masa sulit karena peperangan yang dialami oleh Daud tidak lagi menjadi masalah Salomo. Allah sungguh mengawal kerajaan Israel karena keberadaan Bait Allah yang telah didirikan dan hikmat Salomo telah menjadi rujukan orang-orang Israel untuk hidup dalam takut akan Tuhan.

Sebagai umat percaya kita diajak untuk melihat bahwa apapun pencapaian yang kita sudah miliki merupakan bagian dari rencana dan pekerjaan Tuhan dalam hidup kita. Sebagaimana Tuhan melindungi Salomo maka kita juga perlu percaya bahwa Tuhan jugalah yang akan melanjutkan pekerjaan-Nya dengan mengawal kehidupan, pekerjaan, cita-cita kita sesuai dengan  apa telah yang direncanakan-Nya.

Kemudian pemazmur mengungkapkan peran Allah lainnya, yaitu peran-Nya sebagai Allah yang mencukupi kebutuhan orang-orang yang dicintai-Nya (ay. 2). Pesan Allah di sini menyingung usaha keras manusia yang setiap hari bangun pagi dan bekerja sampai larut malam untuk memenuhi kebutuhan mereka, hal ini dapat diwakili oleh orang-orang yang ingin menjadi kaya atau orang-orang yang berupaya keluar dari kemiskinan atau kekurangan. Ya, bekerja dengan susah payah seringkali membuat kita lupa bahwa Allah yang memberikan kecukupan akan kebutuhan kita (Doa Bapa kami – berikanlah makanan kami yang secukupnya bukan sekedar kecukupan akan kebutuhan, namun juga cermin doa atas dasar rasa cukup atau kerinduan untuk mencukupkan diri).

Pemazmur akhirnya menutup pengajarannya tentang  peran Tuhan sebagai pemberi anugerah. Dalam konteks ini anugerah yang diterima dalam sebuah rumah tangga adalah anak-anak. Disini Tuhan ingin menegaskan bahwa anak yang kita anggap sebagai milik kita sebenarnya adalah milik Tuhan, anak yang kita anggap sebagai hasil buah hasil perkawinan adalah anak sebagai buah kandungan, yang adalah suatu upah dari Tuhan (bnd. Kej. 15:1 –2)

Upah merupakan bagian dari janji Tuhan atas permintaan Abraham dan rencana Allah bagi keturunan Abraham. Kadang kita hanya melihat upah hanya sebatas dari besarnya iman kita kepada Tuhan tanpa bergantung pada janji Tuhan dan rencana Tuhan bagi anak-anak kita. Karena itu pemazmur mengingatkan kita kembali bahwa anak bukanlah milik kita. Mereka adalah milik Tuhan di dalam janji-Nya dan rencana-Nya secara khusus terhadap anak kita. Kita seakan-akan begitu terikat pada pemahaman punya anak atau tidak punya anak, punya anak laki-laki saja atau hanya punya anak perempuan. Kemudian setelah melihat keadaan kita, membandingkannya dengan orang lain, maka keberhargaan kita ditentukan oleh ada atau tidaknya anak atau ada tidaknya anak laki-laki/perempuan. Kita lupa bahwa Tuhanlah yang mempunyai semuanya, Allahlah yang memiliki anak-anak kita dan Dialah yang memiliki rencana atas anak kita bukan sebaliknya.

Jadi sebagaimana Allah membangun rumah, mengawal, memberi apa yang kita butuhkan, iapun memberi keturunan bagi keluarga. Konteks Mazmur 127 menyatakan salah satu berkat dari Allah dinyatakan melalui anak-anak. Anak-anak atas pemberian Tuhan menjadi begitu penting ketika dalam masa muda mereka. Mereka memilki kekuatan untuk mendukung keluarga dan menyelesaikan tugas yang diberikan sebelumnya oleh ayahnya. Sebagaimana seorang pahlawan (warrior) menguasai anak panahnya demikian pula seorang ayah dengan anaknya. Anak merupakan tanda kehormatan (indelible mark) dan mendatangkan kebahagiaan bagi kehidupan keluarganya. Semuanya itu terjadi jika setiap orang tua mengetahui bahwa anak-anak adalah milik pusaka yang diberikan Allah, Si Pemberi anugerah.

Lalu, apa pesan Allah yang berupa pelajaran tentang manusia?
Pemazmur ingin mengajarkan tentang kebergantungan kita pada Tuhan dalam membangun kehidupan keluarga, mengawalnya dan memberi kecukupan. Kita tahu bahwa Mazmur memiliki baris-baris puisi. Baris-baris puisi dalam Mamur 127:1-3 merupakan bari-baris puisi yang diulang-ulang secara pararel, dimana ada baris-baris yang mengulang kalimat atau kata-kata induk kalimat. Ketika pemazmur menyatakan “sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur”. “Pada waktu tidur” merupakan puncak pengulangan (klimaks) secara pararel tersebut. Disini Pemazmur ingin menegaskan kebergantungan kita. “Waktu tidur” memanndakan orang yang sunguh-sungguh mempercayakan diri kepada Tuhan (bukan bermalas-malasan). Pelajaran kepada kita disini mengarahkan kita untuk sungguh-sungguh bergantung kepada Allah sebagai pembangun, pengawal dan pemberi apa yang kita butuhkan.

PERINGATAN
Mazmur 127 mengingatkan kita akan cirri-ciri seorang workaholic (gila kerja) atau orang yang bekerja keras dari pagi sampai larut malam. Mereka dapat diasosiasikan sebagai orang-orang yang melakukan sesuatu bukan karena dicintai oleh Tuhan. Mereka bergelut mencari uang semata-mata untuk diri sendiri, baik disebabkan oleh tekanan atau keterpaksaan, kondisi ekonomi maupun keinginan untuk kaya. Hal ini bukan berarti kita tidak bisa bekerja sampai larut malam. Namun mereka yang bekerja sampai larut malam seharusnya menyadari bahwa kasih Tuhanlah yang memberikan kesempatan dirinya untuk bekerja, dan mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Kerja kerasnya merupakan akibat kasih Tuhan dalam bentuk ucapan syukur kepada-Nya. Pekerjaannya merupakan tanda kasih kepada Tuhan, bukan demi cintanya terhadap pekerjaan itu sendiri.

Mazmur ini juga ingin mengingatkan orangtua untuk memperlakukan anak-anak sebagai milik Tuhan. Orangtua bertanggungjawab atas milik pusaka Tuhan. Di lain pihak, seorang ayah ataupun orangtua perlu mencatat bahwa akan-anaknya di kemudian hari turut meng-hadapi apa yang menjadi masalah keluarga. Konteks pemerintahan pada saat Saul memerin-tah menjelaskan kepada kita bahwa Isai mengirimkan anak-anak laki-lakinya untuk turut berperang melawan bangsa Filistin. Konteks ini mengajarkan kepada kita bahwa ketika situasi perang muncul maka seorang anak laki-laki akan maju berperang untuk melindungi bangsanya karena mereka dididik dan berperan melindungi seluruh anggota keluarganya.

Konteks lainnya dicatat dalam Amos 5:12. Disini dibuktikan bahwa anak laki-laki terlibat untuk mendukung saat ayahnya mendapat perlakuan tidak adil. Kehadiran anak-anak mencegah seorang ayah dipermalukan. Karena anaknya, seorang ayah yang mendapat perlakuan tidak adil dapat berbicara dengan otoritas dan tidak lagi perlu takut dicela oleh orang lain. Anaknya berperan menjadi pendukung sekaligus jaminan untuk berperkara dengan orang lain. Demikian pula konteks saat Abraham mengirim hambanya untuk mencari pasangan hidup bagi Yakub. Hamba Abraham disambut dan mendapat persetujuan bukan saja oleh Betuel, ayah Ribka, namun juga oleh Laban, kakak laki-laki dari Ribka.

Jadi penting sekali bagi seorang ayah atau orangtua melatih anak-anaknya untuk melakukan hal yang benar. Keseluruhan Alkitab, terutama sehubungan dengan hikmat Tuhan, memberi bantuan kepada kita untuk menjadi keluarga yang teratur dengan baik (well order) karena didikan dan pengajaran Tuhan dan wakil-Nya, yaitu orangtua. Sebagaimana pemazmur mengajarkan pemahaman tentang kesia-siaan dalam segala sesuatu yang kita kerjakan tanpa Tuhan, maka sebagai orangtua, kita wajib mengajarkan semuanya kepada anak-anak kita. Kebahagiaan orantua terjadi tatkala kita, sebagai orangtua, telah memperkenalkan Tuhan atas perannya sebagai pembangun kehidupan rumah tangga; pemberi perlindungan dan pemenuh kebutuhan. Kebahagiaan hadir tatkala anak-anak mereka mampu berperan sebagaimana panggilan-Nya dan perannya dalam keluarga yang turut merepresentasikan peran pembangun, pelindung adan pemenuh kebutuhan keluarga.


JANJI
Sekilas pembacaan Mamur ini tidak mengandung sebuah janji. Namun secara grammatika atau tata bahasa, setiap kata kerja yang digunakan sehubungan dengan peran Tuhan, yaitu kata membangun, mengawal, dan memberikan merujuk pada peran aktif Allah dalam melakukan pekerjaan-Nya. Bahkan lebih jauh, pemazmur memperlihatakan bahwa apa yang Tuhan sudah kerjakan masih berlanjut. Pemazmur seolah-olah ingin menyatakan kepada kita  “The best yet to come” , masih ada hal-hal terbaik dari Tuhan yang akan datang. Karena itu marilah kita sungguh bergantung pada Tuhan dan rencana-Nya karena janji-Nya selalu mendatangkan kebaikan buat kita semua.


APA RESPONKU?

BERSYUKUR
Kita patut bersyukur atas hikmat yang melepaskan kita dari keterbebanan  hidup karena rutinitas pekerjaan yang tanpa menyadari bahwa sesungguhnya Tuhanlah yang membangun, mengawal dan memberi apa yang kita perlukan. Dialah yang menuntun langkah hidup kita.

Kitapun bersyukur atas anak-anak yang telah dikarunakan oleh Tuhan kepada kita menurut rencana Tuhan kepada mereka.

BERTOBAT
Kita perlu memperbaharui cara pandang kita terhadap segala jerih payah kita yang berpusat pada diri sendiri. Saat mana kita mengandalkan diri sendiri namun tidak pernah mendatangkan kepuasan jiwa dan rasa cukup.

Bertobat dari cara pandang kita terhadap anak-anak yang sering kita perlakukan bukan sebagai milik pusaka Tuhan.

BERBUAT
Kita belajar mempercayakan cita-cita, rencana, pekerjaan dan rumah tangga kita kepada Tuhan karena menyadari apa yang Tuhan sanggup perbuat dalam kehidupan kita sehari-hari.


BERDOA
Kita meminta Tuhan berperan penuh dalam rumah tangga kita. Berdoa mempercayakan diri dan keluarga kita dalam pembangunan, pengawalan dan atas pemberian rejeki kita sehari-hari.

Berdoa bagi anak-anak kita. Berdoa agar kita dimampukan untuk mengajarkan kepada mereka tentang Allah sebagai pembangun, pengawal dan pemberi sehingga anak-anak kita menyadari sepenuhnya bahwa jikalau bukan Tuhan sia-sialah apapun yang mereka kerjakan. Agar mereka mempunyai sikap hidup yang bergantung pada Tuhan.

Minggu, 10 Januari 2010

Be Truthful with Your Feelings for There is Answer from God


 A Conversation between Me and My Brother

John O.H. Sihombing (Me): Tomorrow i will back to teach my students. I didn't have more times to prepare but at least my mom can see that my son get his weight while i spent my time with my kids during holiday. Do you ever feel failure when you can’t do more at your work, school or activities? How do we see that failure in His perspective?
The problem is that we could always do better if we have more time. It's the same when I am preparing a sermon to preach. But God knows that time is not infinite, and gives us the job of dividing it up to chose what is most necessary to do. I see it as an opportunity to trust him. If time was infinite, we wouldn't need to trust him so much.  (Mike W.)

Sabtu, 02 Januari 2010

Garam and Terang ( Matius 5:13-16)


 A. Metafora
1. Garam
2. Terang

B. Artinya
1. Deklarasi Keberadaan (Declaration of being)
2. Murid sebagai Garam
3. Murid sebagai Terang  
a. Perintah Berlipat Ganda
b. Kota di atas bukit
c. Karakterisitk Para Saksi
d. Efek para saksi

A. Metafora.
1. Garam. Pada zaman Yesus garam itu sangat berguna sebagai bahan penyedap dan pupuk, dan terutama sebagai pengawet dalam daging. Tetapi garam bisa menjadi tidak berguna. "Sebenarnya, garam tidak dapat kehilangan rasa garam, natrium klorida adalah senyawa yang stabil. Tetapi kebanyakan garam dalam dunia kuno dari garam rawa-rawa atau sejenisnya, bukan oleh penguapan air garam, dan oleh karena itu ada banyak kotoran. Garam yang sesungguhnya lebih mudah larut daripada yang tidak bersih, memang bisa dicuci untuk mengeluarkan kotorannya, namun tetap meninggalkan residu yang sangat tipis, sehinga menjadi kurang berharga "(Carson, 138).

2. Terang. Tujuan tearng adalah untuk bersinar. Bangunan batu kapur putih di sebuah kota yang diletakkan di atas bukit, akan terlihat bersinar di bawah sinar matahari (Carson, 139). Sebuah lampu (lychnos) dinyalakan dan diletakkan di kandil (tempat lampu berdiri), itu akan memberikan terang di dalam rumah. Tapi tujuan tersebut bisa dikalahkan: seseorang dapat (walaupun tidak ada yang mau melakukannya) meletakkan lampu di bawah "ranjang atau tempat tidur" (BAGD untuk modios). B.

B. Artinya.
1. Sebuah deklarasi atas hakekat (keberadaan). Jesus merujuk kepada muridnya  (“ Kamu adalah…”). Ia berbicara secara utama tentang mereka itu apa bukan mereka akan menjadi apa “Kamu adalah garam dunia…Kamu adalah terang dunia.” Bagi garam dan terang, hakekat (nature) dan fungsi adalah satu. “Garam mengasinkan karena itu adalah garam,dan terang menerangi karena itu terang”. Dalam garam dan terang, hakekat dan fungsi adalah satu. (Martin H. Franzmann, Follow Me: Discipleship according to Saint Matthew, 42). Deklarasi ini perlu dilihat pada terang Firman Tuhan dalam pasal 5: 3-12. Ucapan bahagia menggambarkan kualitas agar masuk ke dalam kerajaan surga, dan bagi kehidupan di dalam surga. Penduduk kerajaan mendemosntrasikan kualitas-kualitas tertentu. Ketika mereka melakukannya, dan sebagai orang yang melakukannya, mereka adalah garam dan terang.

2. Murid sebagai garam. Sesuai dengan apa yang dikatakan di atas, orang Kristen menjadi pengawet dalam masyarakat yang berdosa dan korup (bdk. Ams 11:11; Phil 2:15-16). Seperti seseorang berkata, "Garam menyimpan sesuatu yang mati dari menjadi membusuk." Di Israel pada masa Yesus, pernyataan ini dibuat dalam terang pengaruh destruktif kepemimpinan agama (cf. 3:7, "Kamu keturunan ular beludak!"). Penerapannya pada hari ini: "Kekristenan bertindak sebagai penghalang melawan kecenderungan alami dari budaya yang dibangun di atas sifat manusia berdosa yang jatuh ke pembusukan. Pengaruh orang Kristen seperti ini tidak selalu tampak jelas, tetapi hal bisa menjadi sangat penting" ( Mark A. Noll et al., The Search for Kristen Amerika, 46).

3. Murid sebagai Terang.

a. Perintah Berlipat Ganda. Pararel secara Linguistik antara 13a dan ay 14a menjadi saksi hubungan konseptual yang vital. Murid menjadi keduanya, garam dan cahaya. Dia tidak dipanggil hanya untuk bertindak sebagai pengawet, yang bertahan melawan penyebaran korupsi dalam masyarakat. Ia juga untuk memberi kesaksian kepada masyarakat secara positif.

b. Kota di atas bukit. Penggambaran atas ay. 14 dimaksudkan untuk mengingat nubuat Perjanjian Lama tentang Yerusalem baru "menyinari terang kemuliaan ilahi di dunia untuk kerajaan mesianis" (Gundry, 77; cf. Isa 2:2-4; 4:4 -6; 60 :1-22; Carson, 139-40). Hal ini sesuai dengan inklusi Yesus dan Matius atas bangsa-bangsa lain.

c. Karakteristik para saksi. "Perbuatan baik Anda" (ay. 16) harus dipahami dalam cara yang paling komprehensif, untuk merangkul para murid bersaksi secara total (dengan kata-kata dan kerja) untuk kualitas hidup dinyatakan dalam vv. 3-12. Mengingat Yesus “fokus” pada keberadaan murid , perhatikan bahwa penekanan tidak terletak dalam usaha mereka untuk menjadi terang (yang mereka telah memiliki), tapi atas kerja mereka untuk membiarkan terang itu bersinar. Jika terang tidak tersembunyi - jika keberadaan para murid-murid benar-benar jelas untuk tampak sebagai terang – kesaksian akan terjadi.

d. Efek para saksi. Tujuannya adalah bahwa orang-orang yang melihat terang menjadi (seperti para murid) memuliakan Bapa di surga - menjadi warga Kerajaan Surga, seorang anggota masyarakat Allah yang baru, anak-anak dalam keluargaNya.

Pertanyaan-Pertanyaan yang berhubungan dengan Garam dan Terang

1. Apa artinya menjadi garam dunia? Apa artinya menjadi terang dunia? Apa dorongan yang seharusnya diberikan oleh ayat-ayat ini bagi orang Kristen? Apa kewajiban yang diletakkan metafora ini pada orang Kristen?

2. Bagaimana Matius 5:13-16 lebih jauh membawa argumen dari Ucapan Bahagia? Bagaimana cara tersebut bergerak terhadap pernyataan-pernyataan dalam 5:17 selanjutnya?

3. Yesus tampaknya untuk merujuk pernyataan dalam Matius 5:13-16 kepada para murid dan juga terhadap orang banyak lainnya. Dalam hal apa bahwa kata-kata yang diucapkanNya benar? Apakah maksudnya semua orang diselamatkan? Jika tidak, dapatkah orang-orang yang belum selamat dapat menjadi garam dunia dan terang dunia?

The writing above is a translation from:
http://www.thirdmill.org/files/english/new_testament/903~4_2_99_12-11-51_AM~Matt5.1-16.PDF

Catatan: Terjemahan ini terasa perlu dilakukan karena ketika membantu isteri saya mendapati kesulitan  mencari arti dan maksud garam dan terang dalam bahasa Indonesia. Saya berharap terjemahan ini bisa membantu orang lain juga.