Sabtu, 26 Januari 2008

Makna Kelahiranku bagiNya, Keluarga dan Sesama

(Sebuah refleksi bagi yang ber- Ulang Tahun)

Hidup harus memiliki makna. Makna itu dapat dimulai dari sejauh mana kita melihat kehidupan sejak kelahiran sampai hari ini. Apakah kelahiran kita sudah memberi makna bagi Tuhan, keluarga dan sesama?

I. Makna kelahiran bagi manusia. 1. Kelahiran Kain dan Habil (Anak yang diharapkan) “…maka kata perempuan itu: ‘Aku telah mendapatkan seorang anak laki-laki dengan pertolongan Tuhan.” (Kejadian 4:1).

Ukuran manusia: Urutan dan gender (kontras dengan Kejadian 4:2). Pada kelahiran Habil hanya dinyatakan, “Selanjutnya dilahirkannyalah habel....“ 2. Kelahiran Ishak (Anak yang dijanjikan).

“...dan Tuhan melakukan kepada Sara seperti yang dijanjikanNya“ (Kejadian 21:1).

Kelahiran bagi seorang manusia seringkali dibatasi hanya pada gender dan urutan tertentu. Jika kita meperhatikan perjalanan kehidupan Ishak sebagai anak perjanjian tidaklah seisitimewa ayahnya, Abraham, anaknya Yakub bahkan cucunya Yusuf. Sedemikian penting seseorang melihat dirinya sendiri bahkan ketika seorang melihat dirinya dihadapan Tuhan (sebagai anak perjanjian) tidaklah menentukan jalan hidup yang memiliki makna yang luar biasa.

II. Makna kelahiran bagi Tuhan, Keluarga dan Sesama

1. Kelahiran Esau dan Yakub (Anak yang bertolak-tolakkan).

“...Tuhan mengabulkan doanya, sehingga Ribka, isterinya itu mengandung. Tetapi anak-anaknya bertolak-tolakkan di dalam rahimnya...“ (Kejadian 25:22)

2. Kelahiran Musa dan Yesus (Anak yang menderita)

“......Lalu Firaun memberi perintah kepada seluruh rakyatnya: “Lemparkanlah segala anak laki-laki yang lahir bagi orang Ibrani.......Seorang laki-laki dari keluarga Lewi kawin dengan seorang perempuan Lewi; lalu mengandunglah ia dan melahirkan anak laki-laki....“ (Keluaran 1:22 - 2:2)

Kelahiran bagi Allah tidaklah dibatasi oleh peristiwa-peristiwa yang menyakitkan bahkan tragis sekalipun. Jika kita meperhatikan konflik Esau dan Yakub berakhir manis dan penuh peng- ampunan. Tidak ada yang tidak dapat diselesaikan jika Allah memanggil kita untuk berdamai dan bersikap rendah hati. Kelahiran Musa dan Yesus beraada pada situasi yang sangat kacau dan jeritan menyayat bayi-bayi yang terbunuh. Namun dalam situasi seperti itupun Allah merencankan keselamatanNya bagi kita.

Refleksi: Apakah makna kelahiran anda? Sudahkah hidup anda bermakna bagi Tuhan, keluarga dan sesama?

Sabtu, 05 Januari 2008

Terjemahan Alkitab yang Terbaik?

Terjemahan Alkitab yang Terbaik?

Suatu waktu saya mendengar dari sebuah radio Kristen tentang sebuah terjemahan Alkitab berbahasa Inggris yang dinyatakan sejajar dengan teks asli Ibrani dan Yunani. Terus terang saya tersentak mendengarnya, karena sesungguhnya terjemahan bahasa Inggris tetaplah merupakan terjemahan dari bahasa aslinya. Kalaupun ada terjemahan yang saya yakini terbaik, tidak cukup bukti untuk menyatakan Alkitab terjemahan bahasa Inggris tersebut sebagai Alkitab yang paling tepat, kata demi kata dengan bahasa aslinya. Advertisement tersebut menyatakan bahwa King James Version sebagai terjemahan yang sesuai atau tepat dengan bahasa aslinya. Apakah benar demikian? Jika memang terjemahan King James yang paling baik, apakah sisi terbaik dari terjemahan ini? Jika King James Version bukan 100% yang terbaik, maka apa buktinya? Melihat sisi baik dari terjemahan KJV maka kita akan melihat terjemahan yang “paling ber- pengaruh di zamannya”[1]. KJV merupakan terjemahan bahasa Inggris yang paling banyak digunakan dan tersebar banyak ke berbagai pelosok mengingat beberapa organisasi Kristen atau pekabar Injil turut menyebar luaskan melalui Alkitab gratis versi King James Version (salah satunya The Gideons). Salah satu pengaruhnya adalah banyak orang telah mengenal Injil melalui terjemahan KJV. Melihat sisi yang kurang dari terjemahan King James maka pertama-tama kita akan men- dapati masalah yang berhubungan dengan terjemahannya, yaitu kita diperhadapkan dengan bahasa yang selalu berubah menurut zamannya. Banyak orang telah me-ngetahui bahwa kata-kata dalam terjemahan KJV seperti "Thou" untuk Allah bukan lagi kata yang dapat mudah dimengerti pada zaman ini. “Ada kata-kata yang sudah tidak dipakai lagi, dan ada kata-kata yang sudah berubah arti. Yang kedua ini tentunya lebih parah untuk pembaca sekarang”. Apalagi jika kata-kata tersebut diterjemahkan dalam bahasa Indonesia atau orang-orang yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris. Kecenderungan kesalahan pengertian menjadi tajam dan berbahaya. Ada beberapa blog atau tulisan yang menyerang kekristenan saat dengan meng- guna-kan Alkitab terjemahan KJV sebagai acuan. Salah satunya mereka mengkritisi Alkitab karena kekristenan dianggap memiliki Allah yang beranak-pinak. Mereka menggunakan kata "begotten" dalam teks Yohanes 1:14, 18 versi KJV dan Pengakuan Iman Nikea yang dalam terjemahan orang Indonesia berarti "diperanakkan".

Penggunaannya menjadi rancu pertama-tama karena teks KJV tersebut menggunakan bahasa Inggris klasik. Bagi orang Inggris tulen tidak perlu dipermasalahkan karena maksudnya bagi mereka telah sangat jelas. Tapi bagi yang bukan orang Inggris dan mengerti bahasa Inggris klasik menjadi "syak" (Lihat penjelasannya secara lengkap dalam halaman lain blog ini). Jadi jelas, Alkitab terjemahan versi King James menuntut seseorang mengetahui terjemahan bahasa Inggris klasik atau paling tidak pembaca dapat membandingkan artinya dalam teks Yunani. Kesulitan lain yang ditemukan dalam penggunaan versi King James adalah masalah pembaca yang kurang mengenali sejarah penterjemahan itu sendiri. Kita perlu mengetahui bahwa Alkitab Perjanjian baru versi King James bukan saja bersumber dari manuskrip atau tulis- an-tulisan dalam bahasa Yunani, namun juga Latin. Teks Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani sebagai bahasa yang paling populer pada masa itu. Namun perkembangan bahasa yang “mendunia” tercatat bergerak dari bahasa Yunani ke bahasa Latin. Sehingga banyak salinan teks yang tertulis dalam bahasa latin. King James menggunakan kedua sumber bahasa tersebut. Hasilnya, kita akan mendapati teks terjemahan King James yang diberi tanda bintang (Lihat tanda * dalam I Yohanes 5:7-8 KJV; LAI - Lembaga Alkitab Indonesia memberi tanda kurung) sebagai acuan mengetahui bahwa ada teks Latin yang diterjemahkan di sana. Tanda ini jelas bagi pembaca King James yang teliti dan kritis, namun bagi orang-orang yang menilai negatif menyerang Kekristenan dengan menggeneralisasi bahwa Alkitab adalah hasil editan, bukan yang asli.

Kemudian, mengamati perbedaan versi KJV dengan versi lainnya kita menemukan adanya per- bedaan teks yang diterjemahkan dan digunakan oleh KJV. Disini kritik teks melakukan pekerja- annya untuk menentukan apakah KJV berasal dari teks Yunani terbaik. Hasilnya, permasalahan terbesar dari KJV adalah teks Yunani yang digunakan:

Teks Yunaninya (KJV) bukan yang terbaik yang kita miliki sekarang, seperti tercantum dalam Nestle dan UBS Greek NT edisi terakhir (yang menurut para ahli sudah sangat mendekati tulisan otograf). Teks sumbernya adalah teks yang rusak ("corrupt" istilah Inggrisnya), sebab ada banyak kekurangan, berbeda dengan teks sumber yang sekarang dipakai para penerjemah Alkitab.Jadi kalau ada nas yang tercantum dalam KJV tetapi tidak ada dalam terjemahan modern seperti NIV, maka itu disebabkan bukan karena penerjemah modern lupa mener- jemahkannya, tapi memang teks termaksud tidak ada dalam naskah Yunani yang tertua dan terbaik. Begitu juga kalau artinya berbeda antara KJV dan terjemahan modern.[2] Kita mendapati bahwa KJV tidak saja menggunakan kedua terjemahan Yunani dan Latin namun juga menggunakan teks yang ditemukan kemudian memiliki kesalahan-kesalahan.

Kesimpulan:

Pertama, memahami Alkitab bukan dimulai dari terjemahan terbaik. Terjemahan tetaplah sebuah terjemahan yang dimaksudkan agar pembaca mengerti.

Kedua, strategi penjualan Alkitab setidaknya dilakukan menurut norma-norma yang dipahami bersama. Jangan ada legitimasi tanpa dasar yang akhirnya semakin membawa pembacanya kepada pemahaman yang salah.

Ketiga. terjemahan KJV merupakan alternatif dalam memahami adanya teks Latin yang turut diterjemahkan dalam bahasa Inggris, namun terjemahan ini dapat membuat orang salah pengertian karena kekurang pahaman pembaca terhadap tanda-tanda yang diberikan oleh penerbit, pemahaman atas sejarah terjemahan yang digunakan sebagai sumber maupun kurangnya pengetahuan pembaca terhadap teks Yunani yang ada. Karena itu, sebaiknya kita melakukan pembandingan terjemahan sebelum memberikan penilaian atas terjemahan tertentu, maupun teks Alkitab secara keseluruhan. Gunakanlah pembanding Alkitab bahasa Inggris lain yang menterjemahkan hanya dari sumber teks Yunani yang tertua dan terbaik. Tanyakan lebih lanjut kepada pendeta, rohaniawan, pakar biblika atau tuliskan pertanyaan anda ke kolom komentar dari blog ini.


[1]Krespondensi Penulis dengan salah satu pengamat penterjemahan Alkitab, P.K. melalui email Jumat 04 Januari 2008

[2] Krespondensi Penulis dengan salah satu pengamat penterjemahan Alkitab, P.K. melalui email Jumat 04 Januari 2008 didukung oleh Catatan Preface dari The New Testament, Revised Standard Version, Thomas Nelson and Sons. “…The King James Version of the New Testament was based upon a Greek Text that was marred by mistakes, containingthe accumulated errors of fourteen centuries of manuscript copying..”

Sabtu, 15 Desember 2007

Malam Kudus - Silent Night

Malam Kudus – Silent Night

Lagu Kedamaian di tengah kehidupan yang penuh dengan perbincangan negatif

Ada beberapa hal yang menarik dari cerita mengenai lagu Malam Kudus. Salah satunya adalah latar belakang pengalaman penulis lagu yang bernama Joseph Mohr dan kaitannya dengan syair lagu yang dibuatnya.

Kenyataan dan Masa Lampau

Joseph Mohr lahir pada tanggal 11 Desember 1792 di kota Steingasse di Salzburg. Ia tumbuh di sebuah rumah kecil yang lembab bersama ibunya, Anna Scholber. Ayahnya, Franz Joseph Mohr berasal dari desa di pegunungan es, Maria-pfarr. Pada usia 28 tahun Franz bergabung dengan ketentaraan di Sazburg. Semua yang ia lakukan hanyalah memberikan anaknya sebuah nama sebelum ia sendiri meninggalkan keluarganya. Karena itu, kedua orang-tua Mohr tidak pernah berkesempatan ntuk menikah. Akibat lainnya adalah status ibunya yang dikenakan “pelanggaran kesusialaan“, yaitu kejahatan kepemilikkan anak tidak sah. Status Mohr yang tidak sah inilah sangat menyulitkannya sejak masa kecilnya untuk belajar keahlian tertentu, bahkan untuk masuk seminari ia harus mendapatkan dispensasi dari bishop (pemimpinan tertinggi gereja di wilayah tertentu). Walaupun demikian, kepala paduan suara katedral, Johann Nepomuk Hiernle pernah mendengar Mohr menyanyi; ia mengenal bakat musiknya dan membantunya menerima pendidikan dan menjadi pendeta.

Mohr dikukuhkan menjadi pendeta pembantu pada tahun 1815 dan di kirim ke Maria-pfarr. Di tempatinilah ia pertama kali bertemu dengan kakeknya.

Ia sungguh berntung dapat bekerjasama dengan pendeta Father Joseph Kessler, orang yang berpikiran terbuka. Keduanya mengatur penggabungan bahasa Jerman dan Latin yang dignakan dalam jemaat. Tentu saja jemaat yang sekarang dapat mengerti apa saja yang diucapkan dalam ibadah menjadi senang dan jumlah orang yang datang ke gerejapun kian besar. Namun ketika reformasi peribadatan ini diketahui oleh pimpinan di konsisitori keuskupan mereka mendapatkan penolakkan sehingga Kessler dipindahkan. Kessler digantikan oleh Georg Neinrich Nostler, seorang tradisionalist yang menolak penggunaan bahasa Jerman secara sekaligus dengan Latin dalam pelayanan gereja tersebut.

Tentunya, sebagai seorang yang berpikiran terbuka, Mohr mendapat kesulitan bekerjasama dengan pendeta seniornya tersebut. Keduanya berada dalam konflik yang terus-menerus. Mohr yang lebih dikenal karena ia tidak saja membawa pesan Tuhan namun juga musik, lagu dan bahasa yang lebih dikenal oleh mereka.

Kenyataan dan Rumor

Hubungan Nostler dan Mohr semakin memburuk ketika gereja sedang mengalami masalah keuangan. Nostler mengadukan Mohr atas sikapnya yang dianggap tidak pantas, yaitu menolak tugas, mengunjungi tamu, bersenda-gurau

dengan jemaat yang berlawanan jenis dan “menyanyikan lagu yang tidak meningkatkan semangat keagamaan“. Namun, atasan tertinggi dari dari St. Georgen mengkonfirmasi bahwa tuduhan Kessler tidak berdasar.

Setelah itu, Kessler berkeputusan untuk mengungkit kenyataan masa lampau Mohr sebagai anak yang tidak sah untuk menurunkan popularitas Mohr. Usaha Kessler berhasil, dengan alasan moral, sebagian besar jemaat gereja berpaling darinya. Bahkan sahabat Mohr, Franz Xaver Gruber (seorang guru dan organist), enggan dilihat orang sedang bersama dengannya.

Penerimaan dan Pemulihan

Pada tahun 1818, saat sebelum natal, Mohr membawa puisi yang telah ditulisnya pada tahun1816 kepada Gruber. Tidak ada keengganan diantara keduanya untuk saling membantu setelah kabar negatif yang telah diketahui banyak orang itu. Gruber menerima pusi tersebut, membuat melodi dan musiknya pertama kali dengan diiringi oleh gitar untuk pelayanan natal digereja Oberndorf, Austria.

Reflection:

1. Bagaimanakah perasaan anda jika anda mengalami penolakkan karena masa lalu yang kelam? Dapatkah anda merasakan apa yang dirasakan oleh Joseph Mohr sejak masa kecilnya? Bagaiamanakah kita memperlakukan orang lain yang mungkin memiliki latar belakang yang sangat buruk dari pada kehidupan kita?

2. Dapatkah kita membayangkan apa yang sedang Gruber pikirkan ketika Mohr datang kepadanya untuk memintanya dibuatkan musik untuk lagu Malam Kudus? Mampukah kita datang kepada orang yang memiliki persepsi yang negatif terhadap kehidupan kita?

3. Dapatkah kita melihat rencana Tuhan pada keduanya, baik Mohr maupun Gruber dalam menyingkapi kenyataan dan masa lalu? Apakah kita mendapatkan kesulitan untuk memaafkan kesalahan masa lalu teman, sahabat dan orangtua kita? Mampukah kita melihat pekerjaan Tuhan yang menyatukan hubungan yang retak?

Kesimpulan

Malam Kudus adalah lagu kedamaian. Lagu yang membawa kehadiran Allah, dan kehadiranNya memberikan kepada kita untuk mendapatkan kedamaian dalam hubungan kita denganNya melalui Yesus Kristus dan kedamaian dalam hubungan kita dengan orang lain.

Malam Kudus adalah salah satu contoh bahwa sebuah lagu yang mengagungkan Tuhan mampu memulihkan konflik yang aada diantara pribadi dan kelompok.

Kita melihat bahwa kebaikan, kedamaian dan kehadiran Tuhan selalu terjadi dalam sejarah orang-orang dan pengalaman-pengalaman yang mendahului kita.

Resource: http://en.wikipedia.org/wiki/Silent_Night_(song) http://www.rockies.net/~spirit/silentnight4.html http://silent-night-museum.org/joseph-mohr/ http://silent-night-museum.org/joseph-mohr/childhood.htm http://silent-night-museum.org/joseph-mohr/old-years.htm http://www.novareinna.com/festive/silent.html http://stillenachtland.at/en/das-lied-en/der-texter-en.html Bill Egan, Christmas Historian, http://www.rockies.net/~spirit/silentnight2.html The True Story of Silent Night By B. Francis Morlan, http://mymerrychristmas.com/2005/silentnight.shtml Silent Night: A true story by B.F. Heffernan, http://www.canadafreepress.com/2005/heffernan122005.htm

Jumat, 23 November 2007

BGA AMSAL 31:1-9

BGA AMSAL 31:1-9

(Baca, Gali, Alkitab - Metode yang dikembangkan oleh PPA)

APA YANG KUBACA?

Kita sedang membaca perkataan seorang raja yang bernama Lemuel berdasarkan apa yang diajarkan oleh ibunya. Perkataan ibunya dijabarkan dalam bentuk pengajaran yang dapat dapat dibagi menjadi dua bagian besar yaitu:

Ay. 1-2: Ingatan seorang anak yang menjadi raja terhadap pengajaran Ibunya Ay. 3-9: Ketujuh ayat, mulai dari ayat 3 – 7, sebenarnya mengarahkan kita terhadap masalah- masalah yang dapat mempengaruhi seorang pemimpin dalam mengambil keputusan etis dan keberpihakkan kepada orang yang lemah. Secara khusus ketujuh ayat ini dapat dijabarkan sebagai berikut: 3 : Masalah etis berkaitan dengan perempuan yang amoral terhadap kekuasaan dan kehidupan raja atau pemimpin. 4-7: Masalah etis terhadap kedudukan raja dan pengambilan keputusan jika keduanya berada dalam pengaruh minuman keras. 8-9: Masalah perlakukan adil bagi orang miskin dan tertindas.

APA PESAN YANG ALLAH SAMPAIKAN KEPADA KITA?

Peringatan

Ada beberapa peringatan yang disebutkan di dalam teks ini, diantaranya,

Pertama, peringatan untuk tidak bergaul dengan perempuan-perempuan yang amoral, ayat 3. Kitab Amsal biasanya menyebutkan dua kategori perempuan yang amoral yang patut dihindari oleh para lelaki muda, yaitu pezinah dan isteri yang berselingkuh.[1] Ayat 3 memperlengkapi kita dengan alasan untuk tidak bergaul dengan perempuan amoral karena adanya kecenderungan orang muda, pemimpin, para pengambil keputusan memberikan kekuatan; hal-hal yang dapat merugikan secara fisik; kekuasaan dalam pemerintahan; bahkan kekayaannya (kata “kekuatan” dapat diterjemahakan ”kekayaan”) kepada perempuan amoral tersebut.

Kedua, peringatan untuk tidak minum anggur atau minuman keras yang me-mabukkan, ayat 4-6. Meminum minuman keras secara etis dinyatakan sebagai tindakan yang “tidaklah pantas“, 2 kali penulis Amsal menekankan ketidak pantasan ini. Penulis Amsal disini kemudian menjabarkan tiga penyebab penting tentang minuman keras. Penyebab pertama adalah adanya “keinginan“, yang bisa berupa keinginan untuk mencoba ataupun yang bersifat adiksi; kemudian adanya pengaruh lingkungan, dalam hal ini lingkungan kerajaan dimana “para pembesarnya terbiasa dengan minuman keras“; lalu adanya masalah yang membuat “susah hati“ sehingga seseorang mendapatkan minuman sebagai jalan keluar masalahnya. Alasan etis lainnya juga ditekankan oleh penulis Amsal dalam kaitannya dengan pengambilan keputusan. Seorang peminum akan “melupakan apa yang telah ditetapkan“ (TL “hukum”) dan “membengkokkan hak-hak orang tertindas“. Jadi jelas bagi kita bahwa minuman keras akan menumpul-kan kemampuan seorang pemimpin, mengikat keinginan untuk memuaskan diri sendiri dan pada akhirnya melupakan hak-hak orang lain.

Ketiga, peringatan akan akibat atau konsekwensi dari pergaulan yang amoral dan kebiasaan minum. Penulis amsal menggunakan kata “membinasakan” pada ayat 3 dan “binasa” pada ayat ke 6 sebagai konsekwensi dari pilihan moral yang dimiliki oleh para pemimpin. Kebinasaan disini8 juga berarti „tersingkirnya raja atau pemimpin dari kedudukan atau posisinya. Jadi, penulis Amsal mengingat-kan kita sebagai pemimpin yang dapat menerima konsekwensi atas perbuatan kita mulai dari tersingkir dari kedudukan sampai kebinasaan.

Keempat, peringatan untuk memperhatikan orang-orang yang menderita, orang tertindas, miskin dan bersikap adil dalam pengambilan keputusan, ayat 8-9. Hal yang menarik disini adalah penulis Amsal menyatakannya dengan kata-kata “bukalah mulutmu“. Kata “bukalah mulutmu“ tampak dipertentangkan dengan sikap peminum yang membuka mulut mereka untuk minum minuman keras, yaitu pada ayat 4. Kemudian kata “bukalah mulutmu“ juga dipertentangkan dengan orang yang bisu, yaitu orang yang tidak berani atau mampu berbicara tentang hak-hak mereka (speechless) pada ayat 8. Intensitas pesan dari penulis Amsal menjelaskan kepada kita semakin tajam bahwa tidak cukup bagi kita sebagai pemimpin untuk menjauhkan diri dari kejahatan moral. Mereka juga secara positif wajib menolong orang lain, membela orang miskin dan bertindak adil terhadap mereka yang tidak mampu membayar untuk mendapatkan bantuan hukum.[2]

Teladan

Pada ayat 1 kita menemukan seorang raja mengingat dan mentaati peringatan-peringatan orang tuanya. Kadangkala kita mendapati bahwa seorang anak se-demikian sulit untuk mengikuti teladan orang tuanya. Jadi, kita belajar mengikuti teladan seorang raja yang memberi perhatian terhadap perkataan orang tuanya.

Pelajaran

Teks ini memberikan kepada kita pelajaran untuk bertanggung-jawab. Pertama karena semua batasan-batasan atau larangan telah diajarkan (31:1) seorang ibu kepada anaknya, seorang pemimpin atau raja. Kemudian, secara gramatika atau tata bahasa Ibrani, penulis Amsal menuliskan kata “membinasakan” raja-raja pada ayat 3 bukan sebagai akibat langsung dari perbuatan perempuan-perempu-an amoral tersebut namun akhir dari perilaku raja itu sendiri, yang tidak meng-indahkan peringatan-peringatan yang ada. Jadi ayat-ayat ini memberikan pelajar-an bagi kita tentang tanggungjawab moral yang terletak pada pemimpin itu sendiri.

APA YANG RESPONSKU?

Pertama, kita perlu bersyukur karena Tuhan mengingatkan kita, secara pribadi, yaitu sebagai pemimpin, orang muda, para professional dan para peng-ambil keputusan tentang dasar-dasar moral yang mempengaruhi kepemimpinan diri, maupun kepemimpinan kita di dalam keluarga, masyarakat, lembaga-lemba-ga pemerintah, non pemerintah, lembaga sekuler, Kristiani atau agamawi lain-nya, sekolah, organisasi profitable dan non profit. Kita bersyukur kepada Tuhan karena apapun latar belakang organisasi kita, Tuhan bermaksud agar kita me-ngedepankan masalah-masalah sosial, kemiskinan, hak-hak orang miskin, ter-tindas dan yang terbungkam oleh ketidakberdayaan.

Kedua, kita perlu berdoa agar Tuhan mempersiapkan kita lebih baik dalam memimpin dan memberikan pengaruh secara moral terhadap orang-orang disekitar kita. Kita perlu berdoa agar setiap pengambilan keputusan dapat kita lakukan secara sadar, penuh keadilan dan rasa tanggungjawab. Kita perlu berdoa agar tiap permasalahan dengan kekuatan dari Tuhan dapat kita lalui tanpa mencari pelarian ke hal-hal yang merusak citra diri, keluarga dan citra orang percaya di tengah bangsa ini. Kita perlu berdoa agar tiap-tiap orang yang telah jatuh dalam masalah moral dan ketidakadilan dapat bangkit kembali me-nyuarakan kebebasannya dalam Kristus dan keadilan bagi orang-orang di sekitarnya.

Ketiga, kita perlu mengakui setiap masalah kita manakala masalah tersebut telah mengakar dalam kebejadan moral dan ketidakadilan yang dibuat untuk kepentingan diri kita sendiri. Kita perlu mengakui bahwa tanpa Tuhan Yesus yang menolong maka sia-sialah kekuatan kita sendiri.

Keempat, langkah-langkah kongkrit yang dapat kita ambil dinataranya ialah

  1. Menjauhi keinginan daging
  2. Berhatihati tehradap pengaruh lingkungan sekitar yang menjauhkan kita dari standar moral dalam Firman Tuhan
  3. Bersikap adil dengan memperhatikan orang miskin, tertindas, dan membela hak-hak mereka.

Refleksi Pribadi:

Kita perlu memikirkan ulang terhadap keputusan-keputusan etis yang telah dilaksanakan pada masa lampau. Apakah keputusan kita sudah memenuhi standar Firman Tuhan? Apakah akibat-akibat atau hasil yang kita capai lebih baik jika kita memperhatikan masalah moralitas hidup? Apakah kita sudah me-miliki keputusan yang berpihak pada orang miskin dan tertindas? Sudahkan kita menyuarakan keadilan bagi orang-orang disekitar kita? Kebijakan strategis apapun yang digunakan oleh kita dimulai dari kata “keberpihakkan” kita pada orang miskin.

Kepustakaan

LAI, Alkitab, 2001

Alden, Robert L. Tafsiran Praktis Kitab Amsal. Malang: SAAT, 2002

Longman, Trempre. Hikmat dan Hidup Sukses. Jakarta: Persekutuan Pembaca Alkitab, 2007.

Zodhiates, Spiros. The Complete Word study Old Testament. Chattanooga: AMG Publishers, 1994

Catatan:

Tidak diketahui siapa pengarangnya, namun tampak penulisan ini terjadi pada masa raja-raja. Mengingat pengajaran ibu Lemuel tentang perempuan amoral dan pengaruhnya, maka kita dapat mensejajarkan pengalaman tersebut dengan raja Daud dengan perzinahannya dan raja Salomo (700 isteri dan 300 gundikdan kejatuhannya Nehemia 13:26). Kita hanya dapat memperkirakan bahwa ibu Lemuel mengenal dam mengetahui pengalaman Salomo dan kondisi zaman raja-raja pada masa itu.


[1] Bandingkan dengan Tremper Longman, Hikmat dan Hidup Sukses, Jakarta: Persekutuan Pembaca Alkitab, 2007. p173 [2] Robert L. Alden, Tafsiran Praktis Kitab Amsal , Malang: SAAT, 2002 p. 290