Senin, 06 Juli 2009

Peran Orangtua dan Cara Mendidik di Keluargaku.

Peran Orangtua dan Cara Mendidik di Keluargaku Amsal 1:8-9
Hai, anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu. Sebab karangan bunga yang indah bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu (Amsal 1:8-9) Amsal 1:8 hari ini sangat baik untuk diulang-ulang oleh orangtua kepada anak-anaknya. Kita bisa menggunakan kata “anak” dengan menggantikannya dengan nama anak kita dan menganti sebutan “ayah” dengan panggilan yang biasa kita gunakan misalnya, papa, daddy, dst. Ayat ini sangat menarik karena telah mengusung kolaborasi peran edukasi terhadap anak yang dilakukan oleh ayah dan ibu. Namun, apakah peran tersebut tidak tumpang tindih? Pertanyaan tersebut juga terlintas jika kita memperhatikan kata “didikan” yang digunakan oleh ayah dan kata “ajaran” yang digunakan oleh ibu. Lalu apa maksudnya? Amsal ingin menyatakan kata “didikan” sebagai tanggungjawab ayah dalam arti disiplin. Kata “didikan” berasal dari kata “mutsar” dalam bahasa Ibrani, yang berarti chastisement, punishment, correction, discipline, instruction, self-control (The Complete Wordstudy of Old Testament, Spiros Zodhiates, p. 2330). Ayah mengambil peran sebagai pengarah, pemberi batasan, konsekwensi, perintah dengan tujuan membangun penguasaan diri bagi anak. Tentunya, disini juga mengingatkan ayah yang perlu hidup dalam teladan kedisiplinan dan tidak sembarang menghukum karena iapun dituntut memiliki penguasaan diri (self control). Lalu, bagaimana peran ibu? Kata “ajaran” berasal dari kata “torah” dalam bahasa Ibrani, artinya instruction, doctrine (Job 22:22), regulation, direction, a percept, a statute, law (Zodhiates, p. 2380). Hal yang menarik dari kata “torah” bukanlah pada sisi hukum (law) atau kumpulan aturan-aturan, namun arahannya untuk kehidupan rohani dan bersifat pengamanan atau pemberi keamanan. Kalu kita mau jujur, maka kita sering mendapati bahwa kehidupan rohani seorang anak banyak kali dipengaruhi oleh kehidupan rohani ibunya (contoh: Timotius dan ibunya, Eunike). Bahkan Amsal 31:1-2 menjelaskan kepada kita peran ibu yang bernazar bagi anaknya, Lemuel, yang kemudian menjadi raja Masa. Jadi, kita melihat disini tugas dari peran ayah dan ibu saling mendukung. Keduanya berasal dari “nature” keberadaan laki-laki maupun perempuan. Kalau kita perhatikan lebih lanjut masalah “keamanan” maka kecenderungan “nature” seorang wanita adalah melindungi anak-anaknya. Peran ayah yang cenderung kepada disiplin perlu diseimbangkan oleh peran ibu yang memberi keamanan manakala anak salah mengerti maksud dari disiplin tersebut. Pelajaran dari ayat ini mengingatkan kita betapa keseimbangan dalam tugas mendidik bukanlah masalah yang mudah dan pekerjaan yang sanggup dilakukan tanpa bantuan orang lain. Allah ingin ayah dan ibu menanggung peran bersama dan saling menguatkan satu dnegan yang lainnya. Allah ingin seorang anak dididik dengan cara yang terbaik, yaitu cara sesuai FirmanNya. Di lain pihak, jika kita berperan sebagai anak, maka sadarilah peran orangtua kita selama ini. Mungkin mereka tidak se “ideal” seperti apa yang dimaksud oleh Alkitab karena orangtua kita memang masih perlu belajar dalam cara mendidik anak yang benar. Kata “ ajaran” menggunakan tatabasa Ibrani (Qal Imperfect), yang menjelaskan kepada kita bahwa kegiatan yang diusung oleh ibu dalam kerohanian anak perlu dilakukan secara aktif dan tidak mengenal batasan umur. Itu berarti, bukan saja orang-tua yang berperan menjaga keberlangsungan kehidupan rohani anak hingga dewasa, namun anakpun perlu melanjutkan tongkat estafet iman yang tulus dari orangtuanya. Doa: Tuhan jadikanku anak yang mengerti orangtuaku, kelebihan dan kekurangan mereka dan jadikanku orangtua yang mengenal peranku ditengah keluarga dan masa depan anak-anakku. Amin

Minggu, 05 Juli 2009

Menjadi Bijak - Amsal 1:1-7

Salomo mempunyai tiga (3) tujuan penting dalam menuliskan kitab Amsal ini: Pertama, untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata bermakna; Kedua, untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran; Ketiga, untuk memberi kecerdasan kepada orang-orang yang tak berpengalaman dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda. Salomo kemudian menyatakan bahwa ketiga tujuan penting diatas tidak akan mungkin tercapai jika seorang yang ingin menjadi bijaksana tidak mengindahkan perintah, “baiklah”, untuk mendengar dan menambah ilmu (belajar). Lalu, apakah untuk memenuhi tujuan tersebut menjadi sangat sulit? Tentu saja tidak. Salomo menyatakan, untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka teki orang bijak dimulai dari “Takut akan Tuhan”, ay. 7. Namun bukan berarti untuk menjadi bijak itu menjadi perkara sepele karena tantangan terbesar untuk menjadi bijak adalah berada ditengah-tengah orang bodoh. Bayangkan saja jika kita dipengaruhi oleh orang –orang disekitar kita yang secara langsung atau tidak langsung menghina hikmat dan didikan. Orang-orang yang “tidak takut” akan Tuhan dan orang-orang yang memberikan kita hikmat yang berpusatkan pada diri sendiri. Amsal 1:1-7 meneguhkan pernyataan bahwa “segala sesuatu dimulai dari Tuhan”. Pertanyaanya bagi kita hari ini mungkin, “Sudahkah kita hidup dalam takut akan Tuhan?” Ingat, jika kita mengatakan ya, itu berarti kita mengawali hidup dengan hikmat dan Ia akan memimpin kita dalam setiap situasi, peristiwa dan keputusan yang kita harus ambil hari ini. Doa: Tuhan, aku mau mendengarkan hikmatMu dan aku mau belajar dariMu. Ajar aku untuk selalu hidup dalam takut akan Tuhan.

Minggu, 21 Juni 2009

Senantiasa Taat bagi Kepentingan Kristus sama seperti Kristus yang Taat bagi Kepentinganmu


BGA Filipi 2:12-26

2:12 Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, 2:13 karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. 2:14 Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, 2:15 supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, 2:16 sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah. 2:17 Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian. 2:18 Dan kamu juga harus bersukacita demikian dan bersukacitalah dengan aku. 2:19 Tetapi dalam Tuhan Yesus kuharap segera mengirimkan Timotius kepadamu, supaya tenang juga hatiku oleh kabar tentang hal ihwalmu. 2:20 Karena tak ada seorang padaku, yang sehati dan sepikir dengan dia dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu; 2:21 sebab semuanya mencari kepentingannya sendiri, bukan kepentingan Kristus Yesus. 2:22 Kamu tahu bahwa kesetiaannya telah teruji dan bahwa ia telah menolong aku dalam pelayanan Injil sama seperti seorang anak menolong bapanya. 2:23 Dialah yang kuharap untuk kukirimkan dengan segera, sesudah jelas bagiku bagaimana jalannya perkaraku; 2:24 tetapi dalam Tuhan aku percaya, bahwa aku sendiripun akan segera datang. 2:25 Sementara itu kuanggap perlu mengirimkan Epafroditus kepadamu, yaitu saudaraku dan teman sekerja serta teman seperjuanganku, yang kamu utus untuk melayani aku dalam keperluanku. 2:26 Karena ia sangat rindu kepada kamu sekalian dan susah juga hatinya, sebab kamu mendengar bahwa ia sakit. 

Observation – What does the text say? 

Context – What is the subject of the verses before and after verse 12? Ayat 11 berbicara tentang pekerjaan Allah dalam Yesus Kristus Ayat 13 berbicara tentang pekerjaan Allah di dalam diri orang percaya.

Genre – What kind of text is this?
Surat. Paulus mengirimkan surat kepada jemaat di Filipi

Continuity – What key terms or topics are repeated here? Ketaatan ( ay. 12 bnd. 8) dan kepentingan (ay. 20-21 bnd ay. 4, 5-8,)

Proportion –How much space is devoted to certain topic? Pasal 2 secara menyeluruh berbicara tentang ketaatan. Paulus menjabarkan tentang pengamatannya terhadap keadaan jemaat di Filipi (ay. 1-11). 

Pertama, Paulus berbicara tentang apa yang seharusnya dimiliki (ay. 10) oleh jemaat Filipi dengan menyatakan, “Jika” sebagai suatu kondisi bahwa “jika mereka orang yang sudah percaya kepada Yesus (ada di dalam Kristus), dimana Allah bekerja di dalam diri mereka” maka seharusnya memiliki penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan.

Kedua, Paulus menyatakan apa yang dapat dicapai (ay. 2) di dalam jemaat. Dengan kata “Hendaklah” kamu Paulus ingin menyatakan apa yang dapat dicapai, yaitu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan.

Ketiga, Paulus ingin menyatakan apa yang seharusnya tidak dilakukan ( ay. 3-4) di dalam jemaat, yaitu mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri

Keempat, Paulus ingin menyatakan apa yang setidaknya bisa dilakukan (paling tidak mereka dapat melihat kepentingan diri mereka sama halnya dengan kepentingan orang lain juga) di dalam jemaat dengan menyatakan “janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (ay. 5)

Kelima, Paulus mengungkapkan bagaimana Yesus telah melakukannya lebih dahulu bagi jemaat dengan merendahkan diri, taat, bahkan sampai mati di kayu salib sebagai tanda kekuasaanNya atas segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi (ay. 6-10) 

Structural details – How are ideas connected? Kemudian, pernyataan “Hai saudara-saudaraku yang kekasih”, “kamu senantiasa taat” dan “karena itu tetaplah…” menegaskan wujud ketaatan yang perlu dilanjutkan oleh Jemaat Filipi (ay. 12-30). 

 Interpretation – What does the text mean? What light did the text shed on that issue for its original audience? Adanya perpecahan dan kepentingan diri sendiri di dalam jemaat yang membangkitan ketidaktaatan kepada Tuhan What timeless issue does the text address? Kepentingan diri sendiri mendatangkan perpecahan. Kepentingan diri sendiri seringkali bertentangan dengan ketaatan kepada
Tuhan 

Pelajaran - What do I learn?

Pelajaran dari ayat 12- 16. Berangkat pada ayat 1- 12 diatas maka pada ayat yang menjadi perikop kita pada saat ini yaitu ayat 12 – 16 merupakan KETAATAN yang tampak dari pekerjaan Kristus (dalam inkarnasi, kerendah hatian, ketaatan bahkan kematianNya di kayu salib ) yang hidup di dalam diri jemaat pada saat itu. Ketaatan yang harus terwujud dalam tindakan kita yaitu: 

1. Ketaatan yang terwujud dengan tetap mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (ay. 12). Paulus berbicara tentang ketaatan yang berlanjut “on going obedience”. Ketaatan yang “senantiasa” hidup dalam jemaat Filipi. Ketaatan yang senantiasa hadir tidak saja sewaktu ada Paulus, namun juga saat Paulus tidak bersama mereka. Konteks ayat ini tidak sedang menjabarkan kepada kita tentang keselamatan yang “masih” perlu diusahakan. Namun berkaitan dengan kelanjutan dari ketaatan orang-orang yang telah diselamatkan. Kelanjutan untuk taat dengan disertai takut dan gentar kepada Tuhan, bukan kepada manusia. Ketaatan dimana Allahlah yang mengerjakan di dalam diri mereka, baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya (ayat 13). Jadi, ketaatan itu sebuah ciri dari orang-orang yang sudah percaya dan diselamatkan. Seorang yang sudah percaya akan hidup dalam ketaatan dan menjalaninya dengan takut dan gentar kepada Tuhan.

2. Ketaatan yang terwujud dengan melakukan segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan (ay. 14). Tujuannya: supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan (ay. 15-16a). Orang yang melakukan segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut menjadikan (efek) hidupnya tidak bercela dan bernoda ditengah komunitas dia berada. Ia bahkan menampilkan cahaya di antara orang-orang tersebut.

3. Ketaatan yang terwujud dengan mencari kepentingan Yesus Kristus (ay. 21)
Paulus tidak saja telah menjabarkan tindakan Yesus yang tidak mencari kepentingan sendiri (ay. 5-12), tapi ia juga menegaskannya dengan member dua teladan dari dua tokoh (yang muda dan yang dewasa), Timotius dan Epafroditus. Tentang Timotius, Paulus memberikan contoh:
“Tetapi dalam Tuhan Yesus kuharap segera mengirimkan Timotius kepadamu, supaya tenang juga hatiku oleh kabar tentang hal ihwalmu. Karena tak ada seorang padaku, yang sehati dan sepikir dengan dia dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu; sebab semuanya mencari kepentingannya sendiri, bukan kepentingan Kristus Yesus. Kamu tahu bahwa kesetiaannya telah teruji dan bahwa ia telah menolong aku dalam pelayanan Injil sama seperti seorang anak menolong bapanya. Dialah yang kuharap untuk kukirimkan dengan segera, sesudah jelas bagiku bagaimana jalannya perkaraku; tetapi dalam Tuhan aku percaya, bahwa aku sendiripun akan segera datang, ay. 19-23”

Tentang Epafroditus, Paulus memberikan contoh:
“Sementara itu kuanggap perlu mengirimkan Epafroditus kepadamu, yaitu saudaraku dan teman sekerja serta teman seperjuanganku, yang kamu utus untuk melayani aku dalam keperluanku. Karena ia sangat rindu kepada kamu sekalian dan susah juga hatinya, sebab kamu mendengar bahwa ia sakit” (ay. 25-26)

“Memang benar ia sakit dan nyaris mati, tetapi Allah mengasihani dia, dan bukan hanya dia saja, melainkan aku juga, supaya dukacitaku jangan bertambah-tambah. Itulah sebabnya aku lebih cepat mengirimkan dia, supaya bila kamu melihat dia, kamu dapat bersukacita pula dan berkurang dukacitaku. Jadi sambutlah dia dalam Tuhan dengan segala sukacita dan hormatilah orang-orang seperti dia. Sebab oleh karena pekerjaan Kristus ia nyaris mati dan ia mempertaruhkan jiwanya untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku” (ay. 27-30) 

Application – What does the text mean to me? What do I have in common with the original audience? 

Kadang kita lupa terhadap kepentingan yang utama, yaitu kepentingan Kristus. What response did the writer seek from them? Mengutamakan kepentingan Kristus sama seperti Kristus telah mengutamakan mereka What am I going to do about the truth of this passage? 

Pertama, kita harus bersyukur karena Tuhan mengingatkan kita bahwa Ia tidak saja mengasihi kita terlebih dahulu, namun Ia juga taat terlebih dahulu demi kepentingan keselamatan kita. 

Kedua,kita perlu berdoa agar Tuhan selalu mengingatkan kita untuk mengamati motif dan tujuan dari segala tindakan kita demi kepentingan Kristus 

Ketiga, kita perlu mengakui tatkala kita telah melakukan sesuatu atau pekerjaan semata-mata untuk kepentingan diri kita sendiri dan melupakan kepentingan Krisstus di dalamNya. Kita yang telah berdosa, mengakui bahwa kadangkala kita tidak taat karena kita melupakan kepentingan Kristus dan melaakukan sesuatu demi kepentingan pribadi semata. 

Keempat, 1. Lakukanlah sesuatu selalu mengutamakan kepentingan Kristus. 2. Lakukan sesuatu dengan mengingat apa yang telah Yesus lakukan bagi kita dalam kerelaanNya dan ketaatanNya. 3. Lakukan sesuatu setidaknya untuk kepentingan orang lain juga. 4. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantahan 5. Lakukanlah sesuatu agar menjadi saksi bagi Kristus.

Resources: LAI Alkitab, Alkitab Terjahan baru - www.sabda.org Paul D. Adam, Philippians (2:12-30). www.tmch.net Bob Wilkin, Working Out Your Salvation – Philippians 2:12

Senin, 25 Mei 2009

Two Better than One

The Story of Noah, especially in Genesis verse 18-21, God send every two living creature inside the Ark. We can also look back when Adam and Eve created; it’s a pairs, two for taking care of the Garden of Eden. Even Jesus sends His disciple in pairs (Mark 6:7) to preach the gospel. The greatest reason for walk in pairs or two people is for a better work. Like the book Ecclesiastes said “Two are better than one because they have a good return for their labor (Ecclesiastes 4:9NASB)”. The Talmud says, "A man without a companion is like a left hand without the right. There are reasons for people walk in two, First If one falls down, his friend can help him up (Ecclesiastes 4:10; Genesis 2:18, NIV); Second if two lie down together, they will keep warm. It means that they can support and encourage each other (4:11). Third, they can defend themselves (4:12) and be fair in witnessing for the sake of truth (1Corinthians 14:29; 2Corinthians 13:1; 1Timothy 5:19; Hebrews 10:28; Mark 6:10-13; Deuteronomy 30:19).